TERASJABAR.ID – Ratusan petani tebu binaan kemitraan di Desa Sumber Kulon, Kec. Jatitujuh, Kab. Majalengka, menggelar acara syukuran memasuki musim tebang tebu tahun ini. Kegiatan yang berlangsung di kantor BUMDes Sumber Sejahtera pada Selasa (26/5/2026) tersebut, menjadi momen penting untuk meluapkan rasa syukur sekaligus mempertegas komitmen seluruh petani dalam menghadapi masa giling yang akan segera tiba.
Mengusung tema “Bersyukur atas Hasil Bersama, Membangun Masa Depan dengan Kerja Keras, Kerja Ikhlas dengan Hasil Puas”, para petani menyatakan optimisme tinggi. Mereka meyakini hasil panen tahun ini akan menghadirkan kualitas tebu yang lebih unggul dibandingkan periode sebelumnya.
Ketua BUMDes Sumber Sejahtera, Rawi, menjelaskan, pihaknya menargetkan hasil tebang mencapai 7,5 ton per hektare dengan tingkat rendemen sekitar 7 persen. Angka ini sedikit lebih tinggi dibanding capaian tahun lalu yang berada di kisaran 6 hingga 7 ton per hektare.
“Alhamdulillah, kondisi tanaman tebu kami tahun ini terlihat cukup bagus dan terawat. Harapan kami, hasil panen bisa setidaknya setara atau bahkan melampaui capaian tahun sebelumnya,” ujar Rawi di sela-sela acara.
Ia juga memaparkan rencana pengembangan usaha ke depan. Saat ini, luas lahan garapan tebu milik petani kemitraan di desanya telah mencapai 350 hektare. Untuk tahun mendatang, pihaknya berencana memperluas areal tanam sekitar 210 hektare lagi yang akan dibuka di wilayah Gobel. Jika terealisasi, total lahan tebu di Desa Sumber Kulon bakal meluas menjadi sekitar 560 hektare.
Sementara itu, General Manager PG Jatitujuh, Dedi Wahyu, menyampaikan target kerja sama yang dicanangkan pihak pabrik gula untuk musim giling kali ini. Secara keseluruhan, ditargetkan pemasukan tebu mencapai 515 ribu ton dengan tingkat rendemen 7,4 persen. Angka ini tercatat mengalami peningkatan signifikan jika dibandingkan tahun lalu yang hanya mencapai 6,16 persen.
Selain kualitas dan kuantitas tebu, peningkatan juga terjadi pada nilai jual produk sampingan. Harga tetes tebu tahun ini diproyeksikan menyentuh angka Rp1.500 per kilogram, melonjak jauh dari harga tahun sebelumnya yang hanya berkisar Rp700 hingga Rp800 per kilogram. Adapun masa giling sendiri dijadwalkan akan berlangsung selama lima hingga enam bulan, yang rencananya akan dimulai pada awal Juni mendatang.
Usaha pertanian tebu ini juga disebut memiliki dampak ekonomi yang sangat besar bagi warga desa. Tercatat ada sekitar 200 petani yang tergabung dalam kemitraan ini, yang keberadaannya dinilai mampu menopang ketahanan ekonomi masyarakat, bahkan di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global saat ini.
Lebih dari sekadar keuntungan pribadi, kelompok petani tebu ini juga dikenal aktif berkontribusi bagi kemajuan desa. Setiap tahunnya, dana swadaya yang disumbangkan para petani hampir mencapai Rp100 juta, yang digunakan untuk membiayai pembangunan jalan desa hingga perbaikan sarana pendidikan.
Kepala Desa Sumber Kulon, Kibagus Wardilah, mengaku sangat mengapresiasi kekompakan dan kepedulian para petani. Menurutnya, semangat kebersamaan inilah yang menjadi pendorong utama kemajuan desa serta peningkatan kesejahteraan seluruh warga Desa Sumber Kulon.*
















