Ini juga selaras dengan laporan Kementerian Pertanian (Kementan) dalam rapat stabilisasi gula yang dihelat Bapanas akhir April lalu. Berkat optimalisasi luas tambah tanam tebu, maka diprediksi produksi gula konsumsi nasional dalam setahun ini dapat mencapai 3 juta ton. Musim giling tebu pun akan dimulai pada pertengahan Mei ini di sebagian besar wilayah Jawa.
Adapun stok gula di APGI terpantau sampai akhir April berada di sekitar 100 ribu ton yang tersebar di seluruh daerah. Sementara stok gula di Perum Bulog sampai akhir April terlaporkan berada di angka 2,6 ribu ton tersebar di seluruh Indonesia.
Bulog memastikan akan menyalurkan stok gula ke masyarakat yang sebagian besar melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM) yang diselenggarakan Bapanas maupun pemerintah daerah.
Untuk itu, Bapanas memastikan akan berupaya secara kolaboratif melalui optimalisasi distribusi gula konsumsi ke seluruh wilayah Indonesia. Fokus distribusi stok ada akan diutamakan pada wilayah yang mengalami fluktuasi harga gula konsumsi.
“Tapi sebelum musim giling, tentu kita harus optimalisasi stok-stok yang ada dan tentu melibatkan semua stakeholder. Tentu Bapanas melibatkan semua pihak, termasuk pemerintah daerah untuk ikut memantau. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini, kita bisa kembali menstabilkan harga, tapi yang penting pasokannya relatif bagus dulu,” pungkas Ketut.
Sebelumnya, fluktuasi harga gula konsumsi turut menjadi perhatian Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Dalam Negeri Tomsi Tohir pada rapat inflasi mingguan yang digelar secara daring (5/5/2026).
Ia menyebutkan ada 193 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) gula sampai pekan terakhir April lalu.
“(IPH) minyak goreng naik di 240 kabupaten kota. Bawang merah 227. Gula pasir 193. Cabai merah 148. Beras yang kita sudah swasembada, apakah sudah dilakukan upaya ke 116. (Sementara pangan) yang lain trennya menurun,” ungkapnya.


















