TERASJABAR.ID – Stres tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga dapat memengaruhi sistem pencernaan, termasuk memicu munculnya gejala asam lambung.
Kondisi ini kerap terjadi ketika seseorang menghadapi tekanan pekerjaan, masalah pribadi, atau beban emosional yang berkepanjangan.
Secara medis, stres memang tidak secara langsung meningkatkan produksi asam lambung.
Namun, stres dapat memperburuk gangguan pencernaan yang sudah ada.
Saat mengalami stres, seseorang cenderung mengubah pola makan, seperti mengonsumsi makanan pedas, berlemak, atau gorengan yang dapat memicu naiknya asam lambung.
Sebagian lainnya justru melewatkan waktu makan, yang juga berpotensi mengganggu keseimbangan asam di lambung.
Selain itu, stres dapat memperlambat proses pencernaan karena tubuh mengaktifkan respons “fight or flight”.
Kondisi ini membuat makanan lebih lama berada di lambung sehingga meningkatkan risiko refluks asam.
Ketegangan otot akibat stres juga dapat memengaruhi katup antara lambung dan kerongkongan, sehingga asam lebih mudah naik.
Gejala yang sering muncul antara lain rasa terbakar di dada, mual, mulut terasa pahit, perut kembung, batuk, hingga suara serak.
Untuk mengurangi risiko tersebut, masyarakat dianjurkan mengelola stres dengan baik melalui olahraga, meditasi, atau teknik relaksasi lainnya.
Menjaga pola makan sehat, menghindari rokok dan alkohol, serta tidak langsung berbaring setelah makan juga dapat membantu mencegah gejala asam lambung.
Jika keluhan terus berlanjut, konsultasi dengan psikolog maupun dokter spesialis penyakit dalam sangat disarankan.-***















