TERASJABAR.ID – Super flu bukanlah penyakit baru, melainkan varian dari virus influenza A subtype H3N2 yang sudah lama dikenal sebagai penyebab flu musiman.
Virus ini terus mengalami mutasi hingga muncul subclade baru yang disebut K, yang membuat penyebarannya lebih cepat dibandingkan musim flu sebelumnya.
Varian ini pertama kali terdeteksi oleh Centers for Disease Control and Prevention pada Agustus 2025 dan telah dilaporkan menyebar di sekitar 80 negara, termasuk Indonesia.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, tercatat 74 kasus super flu sejak 1 Januari 2025 hingga 10 Januari 2026, meskipun tren kasus menunjukkan penurunan sejak akhir Desember 2025.
Meski disebut “super flu” karena tingkat penularannya tinggi, World Health Organization menegaskan bahwa varian ini tidak memiliki tingkat keparahan yang jauh berbeda dari flu musiman pada umumnya.
Kebanyakan pasien hanya mengalami gejala ringan hingga sedang, sementara kelompok dengan kondisi kesehatan tertentu tetap berisiko mengalami gejala lebih berat.
Gejala super flu biasanya lebih intens dibanding flu biasa.
Penderita dapat mengalami demam tinggi hingga 39–41 derajat Celsius, nyeri otot dan sendi yang cukup berat, sakit kepala parah, serta sakit tenggorokan disertai batuk kering yang berlangsung lama.
Kombinasi demam tinggi dan rasa lemas ekstrem menjadi tanda yang perlu diwaspadai.
Jika terinfeksi, penderita disarankan untuk banyak beristirahat agar proses pemulihan lebih cepat. Asupan cairan seperti air putih, jus, atau sup hangat juga penting untuk mencegah dehidrasi.
Obat penurun demam dan pereda nyeri seperti parasetamol atau ibuprofen dapat digunakan sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Untuk pencegahan, vaksin influenza tahunan tetap menjadi langkah utama yang direkomendasikan WHO.
Selain itu, masyarakat dianjurkan menjaga kebersihan diri, rutin mencuci tangan, memakai masker saat sakit atau berada di tempat ramai, serta membatasi kontak dengan orang lain untuk mengurangi risiko penularan.-***

















