TERASJABAR.ID – Pemkab Garut menggelar Gebyar Pesona Budaya 2026, pada Sabtu (25/4/2026), yang ditandai dengan arak-arakan budaya alias long march dari perempatan Jl. Sukadana menuju Gedung Bale Paminton di Jl. Ahmad Yani, Garut. Masyarakat begitu antusias menyambut event yang menceritakan sejarah Garut dalam tiga masa, melalui pagelaran seni budaya Sunda serta karnaval.
Namun di balik kemegahan acara, tersisa kekecewaan sejumlah pihak, terutama seniman dan budayawan lokal. Salah satu seniman asal Garut yang enggan disebut namanya menyebut, seniman Garut kurang dilibatkan atau bahkan disisihkan dalam Gebyar Pesona Garut.
“Gebyar Pesona Seni Budaya Kab. Garut th 2026, tidak seorangpun seniman seniwati yang berprestasi dan mengharumkan nama Garut –baik di kancah regional maupun nasional– dilibatkan dalam tampilan puncak acaranya. Ironinya, di saat kita bangga dan ingin mengembangkan seni budaya yang ada di Garut, malah yang di tampilkan di panggung megah ini adalah kesenian rap, hip-hop dan tim kesenian yang bukan dari Garut,” tegasnya.
“Gebyarnya dmana dan pesonanya apa? Di mana rasa keadilan bagi seniman asli Garut? Ini akan menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan ke depannya. Semoga seniman Garut tetap sehat semangat luar biasa,” katanya.
Sementara itu, sejumlah penonton pun merasa kurang puas menyaksikan dan menikmati Gebyar Pesona Budaya ini. Salah seorang penonton, Ang (34), menyatakan ketidakpuasan saat menyaksikan pagelaran.
“Sangat disayangkan acara sebegini meriah tapi kami tidak bisa menikmati dengan puas, karena terhalang oleh stand pedagang makanan. Kenapa harus ada pedagang di area pagelaran, kan bisa di tempat yang berbeda,” ujarnya
“Selain para pelaku UMKM, tempat juga harus diperhatikan. Memang benar lokasi ini strategis berada di pusat kota, tapi ya harus diperhatikan juga sisi lain selain kenyamanan juga keselamatan,” tandasnya.*

















