Ia mendorong agar bahasa daerah diperkuat melalui penggunaannya sebagai bahasa pengantar dalam proses belajar mengajar di sekolah. Langkah itu dinilai penting agar generasi muda tetap akrab dan bangga menggunakan bahasa ibu mereka.
Menariknya, Atip juga menyoroti pentingnya keterlibatan teknologi dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah. Di era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), menurutnya, bahasa daerah harus ikut masuk ke dalam ekosistem digital agar tidak tertinggal.
Ia menilai pengembangan teknologi berbasis Large Language Model (LLM) perlu dioptimalkan agar bahasa-bahasa daerah Indonesia dapat digunakan secara luas di ruang digital, mulai dari aplikasi hingga platform AI masa depan.
“Bahasa daerah juga harus masuk ke dalam ekosistem AI agar tetap relevan dan terus digunakan generasi muda,” katanya.
Sementara itu, Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin menyebut Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional merupakan puncak dari program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) yang telah dilakukan secara bertahap di berbagai daerah di Indonesia.
Menurutnya, program tersebut tidak hanya berhenti pada pelatihan atau pembelajaran di kelas, tetapi melibatkan proses panjang mulai dari koordinasi lintas instansi, penyusunan bahan ajar, pelatihan guru, pengimbasan di sekolah, hingga festival berjenjang dari tingkat sekolah sampai provinsi.
“Tahun ini wajah pendidikan nasional kita semakin ramah terhadap keberagaman,” ujar Hafidz.
Turut hadir, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq, Wakil Ketua II Komite III DPD RI Jelita Donal, Kepala Badan Bahasa Hafidz Muksin, kepala daerah, kepala balai dan kantor bahasa, serta peserta dari berbagai provinsi di Indonesia.
















