TERASJABAR.ID – Membacakan buku dengan suara keras kepada anak terdengar sederhana. Tapi kebiasaan kecil ini ternyata menyimpan manfaat besar mulai dari melatih kemampuan menyimak, memperkaya kosakata, hingga menumbuhkan rasa cinta terhadap buku sejak dini.
Keyakinan itulah yang mendorong Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemendikdasmen menggelar Lokakarya Membaca Nyaring di Jakarta baru-baru ini.
Kegiatan ini mengangkat tema “Membaca Buku Menumbuhkan Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” dan menjadi bagian dari rangkaian peringatan Bulan Buku Nasional 2026.
Penasihat DWP Kemendikdasmen, Masmidah Abdul Mu’ti, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan yang dinilai relevan dengan kondisi literasi nasional saat ini.
Menurutnya, rendahnya minat baca masyarakat Indonesia menjadi perhatian bersama, terlebih di tengah tingginya penggunaan gawai pada anak-anak.
“Kita seperti menjadi korban teknologi. Penggunaan gawai sudah luar biasa, bahkan bisa mencapai 6-7 jam per hari dan termasuk tertinggi di dunia. Karena itu sangat relevan ketika hari ini kita membangun budaya senang membaca, terutama kepada anak-anak dan generasi muda,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa kebiasaan membaca pada anak adalah investasi jangka panjang yang tidak bisa ditunda. “Anak-anak yang tumbuh bersama buku akan memiliki kemampuan berpikir yang lebih terbuka, rasa ingin tahu yang lebih tinggi, serta kemampuan berkomunikasi dan berempati yang lebih baik,” ujarnya.
Menurutnya, budaya membaca tidak dapat tumbuh dengan sendirinya. Anak perlu didampingi, diberikan contoh, dan diciptakan suasana yang menyenangkan agar mereka mencintai buku dan menjadikan membaca sebagai bagian dari keseharian.
















