Namun demikian, ia menekankan pentingnya perubahan strategi agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah.
“Jangan bahan mentah yang dikirim tapi sudah setengah jadi. Setengah jadi dan itu kita kuasai,” ujarnya.
Wamen Nezar juga menyoroti peluang besar dari sisi energi nasional, terutama untuk mendukung pengembangan pusat data yang menjadi tulang punggung industri AI.
“Kita punya kelebihan energi, renewable energy. Listrik kita produksinya cukup banyak, bahkan setahun yang lalu melimpah, surplus energi listrik,” jelasnya.
Selain sumber daya alam dan energi, Indonesia juga memiliki kekuatan pada jumlah penduduk usia produktif yang besar.
“Kita penduduknya paling besar di Asia Tenggara, 285 juta jiwa dengan usia rata-rata 30 tahun,” katanya.
Untuk memanfaatkan potensi tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital telah mengembangkan program AI Talent Factory yang melibatkan berbagai perguruan tinggi.
“Kita coba kumpulkan best talent yang ada di universitas, kemudian kita berikan program-program dasar sampai dengan advance bagaimana memberikan solusi AI,” jelasnya.


















