“Layanan kesehatan adalah fondasi bagi martabat manusia dan pembangunan berkelanjutan,” ujar Dubes Abdulla. Ia menambahkan, program ini mencerminkan warisan kemanusiaan pendiri UEA, Syekh Zayed bin Sultan Al Nahyan.
Dubes Abdulla juga mengapresiasi dokter spesialis mata Indonesia yang tergabung dalam PERDAMI. “Seluruh prosedur dilakukan oleh spesialis mata Indonesia. Dukungan internasional yang memberdayakan keahlian nasional adalah model kemitraan yang paling efektif,” tegasnya.
Senada, Bupati Kapuas Muhamad Wiyanto, menyampaikan terima kasih atas bantuan ini, mengingat tingginya biaya operasi mandiri yang bisa mencapai Rp10 juta per mata.
“Tahun lalu peserta sekitar 150 orang, tahun ini meningkat menjadi 200 pasien. Peningkatan ini menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat sekaligus kepercayaan terhadap program ini,” ungkap Wiyanto. Kedepannya Ia berharap kegiatan ini dapat menjangkau lebih banyak wilayah.
Dalam Peta Jalan Kesehatan Penglihatan 2025–2030, pemerintah menargetkan minimal 60% penderita katarak mendapatkan tindakan operasi dengan hasil tajam penglihatan yang optimal. Pada 2025, realisasi kapasitas operasi nasional telah mencapai 634.642 orang (92% dari target).***
Sumber: Siaran Pers Kemenkes



















