Oleh Khan Albantany_
“Betapa mudahnya manusia menjual dirinya, dan betapa murah harga yang ia tawarkan.”
Kalimat itu terasa bergaung setiap kali kita menyaksikan orang-orang yang dulu tegak, kini menunduk. Yang dulu lantang, kini lirih. Bukan karena mereka tidak tahu, tapi karena mereka memilih untuk tahu namun tetap diam—atau lebih buruk, ikut membenarkan.
Ada sesuatu yang sedang retak dalam diri kita sebagai manusia._
Kita menyaksikan fenomena yang ganjil tapi semakin biasa: orang-orang berilmu, berpengaruh, bahkan yang pernah berdiri di barisan moral, kini berbondong-bondong mendekat pada kekuasaan yang jelas-jelas cacat. Mereka tidak sekadar diam, tetapi memoles kebohongan menjadi tampak seperti kebenaran. Mereka tidak sekadar tunduk, tetapi menghias tunduk itu dengan narasi “realistis” dan “bijaksana”.
Ali Syari’ati pernah mengingatkan, “Ketika agama hanya menjadi alat legitimasi kekuasaan, maka di situlah pengkhianatan terbesar terjadi.”Dan hari ini, bukan hanya agama—akal, ilmu, bahkan integritas—semuanya bisa dijadikan alat legitimasi.
Pertanyaannya sederhana:_mengapa mereka melakukannya?
Bukan karena tidak mampu melawan.Bukan karena tidak tahu mana yang benar.
Tetapi karena mereka ingin tetap berada di lingkaran. Lingkaran kekuasaan. Lingkaran kenyamanan. Lingkaran yang menjanjikan kehormatan—meski kehormatan itu palsu.
Imam Al-Ghazali pernah menulis dengan tajam, “Orang yang mengejar dunia dengan mengorbankan akhiratnya adalah orang yang paling merugi.”Dalam konteks hari ini, dunia itu bisa berupa jabatan, akses, pengaruh, atau sekadar pengakuan sosial.
IIronisnya, mereka mengira sedang naik—padahal sedang jatuh.Mereka mengira sedang dihormati—padahal hanya ditoleransi selama masih berguna.
Di titik ini, kita perlu jujur:kehormatan hari ini telah mengalami inflasi makna.
Ia tidak lagi diukur dari keberanian mengatakan yang benar, tetapi dari kemampuan menempatkan diri di pihak yang kuat. Ia tidak lagi lahir dari integritas, tetapi dari kedekatan dengan pusat kuasa.
Padahal, Khalil Gibran pernah menulis dengan sederhana namun dalam, “Kehormatan tidak datang dari apa yang diberikan orang lain kepadamu, tetapi dari apa yang tidak kau ambil dari mereka.”
Kalimat itu seperti tamparan halus.Karena yang terjadi sekarang justru sebaliknya: orang berlomba-lomba mengambil—mengambil posisi, mengambil keuntungan, mengambil muka—tanpa peduli apa yang harus mereka lepaskan: harga diri.
Lalu apa yang bisa dilakukan? Pertama,_ kita harus berhenti memaklumi.Tidak semua yang “strategis” itu benar. Tidak semua yang “realistis” itu bermartabat. Ada batas yang tidak boleh dinegosiasikan: kebenaran.
Kedua,_ kita harus berani berdiri—meski sendirian.Sejarah selalu dimulai dari minoritas yang tidak mau ikut arus. Mereka mungkin kalah hari ini, tapi tidak kalah dalam catatan waktu.
Ketiga,_ kita perlu mengembalikan definisi kehormatan.Bahwa dihormati bukan berarti dekat dengan kekuasaan, tetapi dekat dengan kebenaran. Bahwa kehormatan bukan sesuatu yang diberikan oleh penguasa, tetapi sesuatu yang dijaga oleh nurani.
Karena pada akhirnya, semua ini akan kembali pada satu pertanyaan yang tak bisa dihindari:Saat kau berdiri di hadapan cermin,dan tak ada lagi jabatan, tak ada lagi sorak-sorai, tak ada lagi kekuasaan—
*apakah kau masih bisa menghormati dirimu sendiri?*












