TERASJABAR.ID – Pelaksanaan upacara peringatan hari jadi ke-385 Kab. Bandung dan rapat paripurna DPRD Kab. Bandung lada 20 April 2026 telah berlalu. Namun kegiatan di Gedung Paripurna DPRD Kab. Bandung tersebut masih menyisakan sorotan warganet, terkait penulisan pada gapura penyambutan di lokasi kegiatan.
Bagaimana tidak, penulisan “wilujeung sumping” yang terpasang di area depan atau samping gedung menjadi perhatian, karena dinilai kurang pas. Karena seharusnya “wilujeng sumping” bukan “wilujeung sumping”.
Sorotan dan kritik pun muncul karena kegiatan rapat paripurna tersebut merupakan agenda resmi dan penting dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Bandung, apalagi dihadiri langsung oleh Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi, Bupati Bandung Dadang Supriatna, jajaran Forkopimda, anggota DPRD Jawa Barat dan DPR RI, hingga tamu undangan lainnya yang mayoritas urang Sunda.
Foto gapura dengan tulisan tersebut pun beredar di media sosial dan grup percakapan. Banyak warganet yang menyayangkan kesalahan penulisan itu karena dianggap menyangkut identitas budaya dan penggunaan bahasa Sunda, khususnya di Kab. Bandung
“Kalau acara sebesar Hari Jadi Kabupaten Bandung, apalagi dihadiri Gubernur Jawa Barat, mestinya penulisannya lebih teliti. Yang benar itu Wilujeng Sumping, bukan Wilujeung Sumping atuh,” tulis salah seorang warganet.
“Urang Sunda, milangkara ka-385 Kabupaten Bandung, nyerat wilujeng ge wilujeung. Duh awak leles, eh leuleus!” balas netizen lainnya.
“Rupina nu nyeratna urang seberang luar Jawa Barat nu teu ngartos Bahasa Sunda. Ngisinkeun ah, ieu pan acara ageung,” tulis netizen lainnya.
Sebagian warganet menilai kesalahan pembuatan dekorasi tersebut kemungkinan terjadi karena pembuatan gapura tidak diserahkan kepada ahlinya, khususnya budayawan maupun Sastrawan Sunda.
Bahkan warganet berkelakar, kalau tulisan sambutan itu dibuat oleh Artificial Intelligence (AI) di mana AI-nya bukan urang Sunda. “Eta mah lepat ngetik (typo) waktu AI-nya nulis wilujeng,” sindir warganet.
Terlepas dari itu, rapat paripurna Hari Jadi ke-385 Kabupaten Bandung berlangsung khidmat. Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan sejumlah pesan terkait pentingnya menjaga lingkungan, budaya, dan semangat pelayanan kepada masyarakat dengan tetap mengangkat kearifan lokal Carita Kisunda.
Adanya sorotan terhadap tulisan pada gapura itu pun diharapkan menjadi bahan evaluasi agar ke depan seluruh unsur pendukung kegiatan, termasuk penulisan dan penggunaan bahasa daerah, dapat lebih diperhatikan.
Sementara itu, Pangaping (Pembina) Daya Mahasiswa Sunda (Damas) Kabupaten Bandung, Erik Ahmad Suganti menegaskan, di area Gedung DPRD apalagi di ruang paripurna, kata adalah nyawa dan doa adalah komitmen.
“Namun saat ‘Wilujeng’ kehilangan bentuknya dalam aksara yang keliru, kita patut bertanya: apakah semangat untuk menyejahterakan rakyat juga sedang mengalami disorientasi yang sama? Jangan biarkan gedung yang megah ini hanya menjadi panggung bagi narasi yang hambar dan ceroboh. Rakyat tidak butuh perayaan yang megah jika untuk mengeja keselamatan saja, kita kehilangan fokusnya,” sesal Erik.
“Sebab, bagi masyarakat Sunda, ungkapan “Wilujeng Sumping” bukan sekadar tulisan penyambutan, melainkan juga bagian dari penghormatan terhadap bahasa dan budaya daerah,” pungkas Erik.*








