TERAS JABAR. ID – Banjir kembali melanda sejumlah wilayah Bandung Raya, terutama kawasan hilir Kabupaten Bandung seperti Bojongsoang, yang setiap musim hujan kerap mengalami genangan di beberapa titik jalan utama.
Melihat kondisi ini Ketua Presidium Corong Jabar Yusuf Sumpena SH, SPm menyampaikan keprihatinannya. Menurut dia, penanganan banjir di Bandung Raya keliru. Seharusnya penanganan banjir perlu melihat bagaimana sistem pengelolaan air dan tata ruang secara menyeluruh berbasis Daerah Aliran Sungai (DAS).
Karena keliru penanganan maka wilayah seperti Bojongsoang, Dayeuhkolot, dan Baleendah berada pada kawasan cekungan alami yang menjadi titik akhir aliran air dari berbagai wilayah Bandung Raya.
Saat curah hujan meningkat, aliran air dari wilayah utara dan selatan Bandung Raya mengalir menuju Sungai Citarum, sehingga memicu peningkatan debit air di kawasan hilir yang lebih rendah.
Pemerintah daerah sebelumnya menyampaikan bahwa terdapat sekitar 13 kecamatan di Kabupaten Bandung yang terdampak bencana hidrometeorologi berupa banjir dan angin puting beliung saat intensitas cuaca ekstrem meningkat, termasuk Kecamatan Bojongsoang.
Ia menjelaskan bahwa penanganan tidak dapat hanya difokuskan pada wilayah terdampak, tetapi harus dimulai dari penguatan sistem pengendalian air di kawasan hulu Bandung Raya secara terintegrasi.
Menurutnya, pendekatan dari hulu ke hilir menjadi kunci agar beban aliran air tidak terkonsentrasi di satu jalur utama yang akhirnya berdampak ke wilayah hilir saat curah hujan tinggi. Yang harus kita pikirkan , kita lakukan dan tindakan adalah penyebabnya bukan akibatnya
Kang Iyus menyebut, beberapa wilayah di Kabupaten Bandung Selatan seperti Pangalengan dan Ciwidey memiliki potensi untuk pengembangan kolam retensi serta area resapan air sebagai bagian dari sistem pengendalian banjir. Permasalahan yang butuh perhatian dan tindakan penanganan resapan air khususnya di KBS dan KBU agar di jaga ketat karena banyak pengembang maupun pengusaha yang membangun tanpa IPT legalitas formal dan pembalakan lahan ilegal.
Selain itu, kawasan Kota Bandung bagian utara dan Kabupaten Bandung Barat juga dinilai penting untuk penguatan sistem tampungan air agar dapat mengurangi debit air yang langsung mengalir ke hilir.
Ia juga menegaskan bahwa normalisasi Sungai Citarum tetap harus dilakukan secara rutin dan berkelanjutan sebagai bagian dari sistem utama pengendalian air di Bandung Raya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa bencana hidrometeorologi di Bandung Raya bukan hanya disebabkan curah hujan tinggi, tetapi juga berkaitan dengan sistem aliran air, tata kelola wilayah, dan kesiapan infrastruktur yang perlu diperkuat secara menyeluruh.***

















