TERASJABAR.ID – Padepokan Pencak Silat Fajar Kencana Kumpay Kuning Putra (FKKKP) di Desa Nagarakembang, Kecamatan Cingambul, Kabupaten Majalengka, telah menorehkan prestasi membanggakan hingga ke tingkat internasional. Namun, di balik gemerlap pencapaiannya sebagai pusat pelestarian seni bela diri tradisional, padepokan yang sudah berdiri selama 54 tahun ini masih menyimpan persoalan mendasar yang belum terpecahkan: belum tersambungnya jaringan listrik dari PLN.
Selama ini, seluruh aktivitas di padepokan yang kini dikenal luas sebagai Kampung Silat tersebut sangat bergantung pada energi alternatif. Untuk memenuhi kebutuhan penerangan dan operasional sehari-hari, pihak padepokan memasang dan mengandalkan tenaga surya secara mandiri. Bahkan sebelumnya, sempat dicoba pemanfaatan tenaga angin, namun tidak bertahan lama karena tiang penyangganya sudah roboh.
“Betul, sampai sekarang kami masih menggunakan listrik tenaga surya. Tahun kemarin sempat pakai tenaga angin juga, cuma tiangnya sudah roboh. Jadi sekarang hanya mengandalkan panel surya saja,” ungkap Pembina sekaligus Guru Utama FKKKP, Yusnil Azidda, saat ditemui, Sabtu (30/5/2026).
Menurut Yusnil, penggunaan energi terbarukan bukanlah semata-mata sebuah pilihan atau inovasi yang disengaja, melainkan keterpaksaan akibat belum meratanya akses infrastruktur dasar di wilayah tersebut. Ia menjelaskan, jaringan listrik PLN di desa itu baru tersedia di wilayah bagian bawah saja, dan sebagian besar pembangunannya pun merupakan hasil swadaya masyarakat setempat, belum menjangkau kawasan padepokan yang berada di lokasi lebih tinggi dan terpencil.
“Memang belum ada aliran listrik PLN masuk ke padepokan. Jaringan listrik baru ada sampai di wilayah bawah desa saja, itupun dibangun oleh warga sendiri. Kami di sini belum terjangkau sama sekali,” tambahnya.
Meski dibayangi keterbatasan fasilitas dan akses energi, semangat para pesilat di sana tidak pernah surut. Aktivitas latihan tetap berjalan rutin setiap hari, diikuti anak-anak hingga remaja yang antusias menekuni warisan budaya leluhur ini. Padepokan ini telah terbukti melahirkan atlet-atlet andalan yang mengharumkan nama daerah dan bangsa di ajang nasional maupun internasional.
Di tengah keterbatasan itu, Yusnil tetap memiliki harapan besar. Ke depannya, pihaknya berencana mengembangkan sistem energi mandiri yang lebih lengkap dengan memanfaatkan tiga sumber alam sekaligus, yaitu tenaga air, angin, dan matahari, agar kebutuhan energi di padepokan lebih terjamin.
Namun, harapan terbesarnya tetap tertuju pada ketersediaan fasilitas dasar dari penyedia layanan listrik negara. Yusnil berharap PLN dapat segera memperluas jaringan hingga ke lokasi padepokan. Pasalnya, keberadaan Kampung Silat ini bukan sekadar tempat latihan, melainkan pusat pelestarian budaya daerah yang strategis. Dukungan infrastruktur listrik dinilai sangat diperlukan agar generasi penerus terus lahir dan mampu kembali mengukir prestasi gemilang di kancah yang lebih luas.
“Kami sangat berharap jaringan listrik PLN bisa segera masuk ke sini. Kampung Silat ini pusat budaya dan pembibitan atlet. Kalau fasilitas sudah memadai, kami yakin akan lebih banyak lagi atlet berprestasi yang lahir, baik di tingkat nasional maupun internasional,” pungkas Yusnil.(*)















