Kinerja positif tersebut turut tercermin dari capaian ekspor industri fesyen dan kriya nasional pada awal tahun 2026. Pada periode Januari–Februari 2026, nilai ekspor industri fesyen pakaian jadi tercatat mencapai USD1,44 miliar, industri tekstil sebesar USD0,52 miliar, dan industri kriya mencapai USD2,43 miliar.
“Capaian ini menunjukkan bahwa industri fesyen dan kriya nasional masih memiliki daya saing yang kuat di tengah dinamika pasar global,” ujar Menperin.
Selain industri besar, IKM fesyen dan kriya juga memiliki kontribusi strategis terhadap pemerataan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja nasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2024, jumlah unit usaha industri fesyen dan kriya pada skala IKM mencapai 1,75 juta unit usaha dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 3,69 juta orang.
“Jumlah tersebut menjadi bagian penting dalam penguatan industri fesyen dan kriya nasional,” tegas Menperin.
Ia juga menjelaskan bahwa potensi besar sektor tersebut didukung oleh ekosistem industri yang kuat, tercermin dari keberadaan 1.825 sentra IKM fesyen dan 3.496 sentra IKM kriya di berbagai daerah di Indonesia berdasarkan data tahun 2025 yang diolah Ditjen IKMA Kemenperin.
Menurut Agus, pemilihan Provinsi Bali sebagai lokasi pendirian BPIFK didasarkan pada potensi dan ekosistem industri kreatif yang kuat.
Bali memiliki 25 sentra IKM fesyen dan 197 sentra IKM kriya, sehingga menempatkan provinsi tersebut sebagai salah satu pusat industri kreatif terbesar di Indonesia.
“Bali memiliki peran strategis sebagai simpul pengembangan industri fesyen dan kriya nasional. Bali tidak hanya berfungsi sebagai pusat produksi, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem industri kreatif yang terhubung dengan pasar nasional maupun internasional,” ungkapnya.

















