TERASJABAR.ID – Perang yang melibatkan United States dan Israel terhadap Iran disebut memperburuk krisis pangan global dan mendorong jumlah orang yang menghadapi kelaparan akut ke tingkat tertinggi dalam sejarah.
Situasi ini terjadi ketika pendanaan internasional untuk bantuan pangan justru mengalami penurunan besar.
Program Pangan Dunia PBB (WFP) menyebut sekitar 363 juta orang kini berada dalam kondisi rawan kelaparan akut.
Dari jumlah tersebut, sekitar 45 juta orang terdampak langsung oleh konflik di Timur Tengah dan lonjakan harga minyak dunia yang mengikuti perang tersebut.
Wakil kepala WFP, Carl Skau, mengatakan lembaganya kini menghadapi tekanan besar karena kebutuhan bantuan meningkat tajam sementara dana bantuan berkurang drastis.
Ia menyebut WFP terpaksa mengurangi program bantuan untuk sebagian masyarakat rentan agar dapat memprioritaskan mereka yang sudah berada di ambang kelaparan.
Menurut Skau, konflik menjadi faktor utama memburuknya situasi global.
Pada 2025, bencana kelaparan resmi diumumkan di Gaza dan Sudan.
Kondisi di Gaza mulai sedikit membaik setelah gencatan senjata, tetapi Sudan masih menghadapi krisis kemanusiaan serius, terutama di wilayah Darfur dan Kordofan Selatan.
Di sisi lain, pendanaan WFP turun hampir 40 persen dibanding tahun sebelumnya.
Pemerintah United States bahkan memangkas kontribusi bantuan pangan lebih dari separuh, sehingga memaksa WFP memberhentikan ribuan staf dan mengurangi jumlah penerima bantuan di berbagai negara, termasuk Afghanistan dan Yaman.
Konflik Iran juga berdampak besar terhadap rantai pasokan global setelah penutupan Selat Hormuz menyebabkan harga minyak melonjak tajam.
Kondisi tersebut memicu kenaikan harga pangan dan biaya distribusi bantuan kemanusiaan di berbagai wilayah dunia.
WFP menjelaskan bahwa banyak negara miskin kini mengalami tekanan berat karena masyarakat harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk membeli makanan.
Akibatnya, kelompok paling rentan terpaksa mengurangi konsumsi harian mereka secara drastis.
Selain harga pangan, biaya transportasi bantuan juga meningkat tajam.
WFP bahkan mengalami keterlambatan berbulan-bulan dalam mengirim bantuan pangan ke Afghanistan akibat jalur distribusi yang terganggu oleh konflik dan penutupan perbatasan.
Skau juga memperingatkan bahwa perang telah mengganggu distribusi pupuk global, terutama ke kawasan Afrika Timur yang sangat bergantung pada pasokan dari Timur Tengah.
Jika situasi terus berlanjut, produktivitas pertanian di wilayah tersebut diperkirakan akan menurun dalam beberapa bulan mendatang.
Ia turut menyoroti meningkatnya bahaya bagi pekerja kemanusiaan di berbagai zona konflik.
Dalam tiga tahun terakhir, lebih dari 1.000 pekerja bantuan dilaporkan tewas saat menjalankan tugas.- ***
















