TERASJABAR.ID – Donald Trump menilai keputusan Iran untuk mengakhiri pemadaman internet nasional sebagai sinyal bahwa Teheran ingin mencapai kesepakatan dengan United States.
Dalam rapat kabinet di Washington, Trump mengatakan Iran kini berada dalam tekanan besar, terutama akibat kondisi ekonomi yang memburuk setelah konflik dengan AS dan Israel.
Menurut Trump, pemulihan akses internet menunjukkan bahwa pemerintah Iran mulai mencari jalan keluar diplomatik.
Ia menyebut ekonomi Iran sedang mengalami tekanan berat dan negara itu tidak memiliki banyak pilihan selain bernegosiasi.
Iran sebelumnya memutus akses internet setelah dimulainya serangan militer AS dan Israel pada 28 Februari.
Pemadaman tersebut disebut menjadi yang terlama dalam sejarah negara itu dan menimbulkan kerugian ekonomi besar.
Kamar Dagang Iran memperkirakan kerugian langsung mencapai 40 juta dolar AS per hari, sementara dampak tidak langsungnya mencapai 80 juta dolar AS setiap hari.
Trump juga mengungkapkan bahwa komunikasi diplomatik antara Washington dan Teheran masih berlangsung melalui mediator dari Pakistan. Kedua negara disebut telah saling bertukar proposal terkait kemungkinan kesepakatan baru.
Sementara itu, televisi pemerintah Iran sempat menayangkan laporan mengenai rancangan nota kesepahaman yang diklaim mencakup pengurangan kehadiran militer AS di kawasan Teluk Persia, pencabutan blokade laut terhadap Iran, serta pemulihan jalur perdagangan melalui Selat Hormuz.
Namun, Gedung Putih langsung membantah laporan tersebut dan menyebut dokumen yang dipublikasikan media Iran sebagai informasi palsu. Pemerintah AS menegaskan bahwa tidak ada kesepakatan final seperti yang diberitakan.
Di tengah proses diplomasi, situasi keamanan masih tetap tegang. Islamic Revolutionary Guard Corps menyatakan kemungkinan perang kembali pecah relatif kecil, tetapi pihak militer Iran tetap dalam kondisi siaga penuh.
Ketegangan kembali meningkat setelah Komando Pusat AS mengumumkan serangan terhadap fasilitas rudal dan kapal penebar ranjau Iran pada 25 Mei. Iran menyebut empat tentaranya tewas dalam serangan tersebut dan menuduh Washington melanggar gencatan senjata yang berlaku sejak 8 April.-***
















