TERASJABAR.ID – Iran membantah anggapan bahwa kesepakatan dengan Amerika Serikat akan segera tercapai.
Pemerintah Iran menilai masih banyak persoalan mendasar yang belum terselesaikan, termasuk perbedaan sikap Washington dan campur tangan Israel yang dinilai menghambat proses negosiasi.
Dalam konferensi pers mingguan Kementerian Luar Negeri Iran, juru bicara negosiasi Iran, Esmail Baghaei, mengakui sebagian besar pembahasan memang telah mencapai kemajuan.
Namun, ia menegaskan hal itu belum berarti perjanjian damai akan segera ditandatangani.
Baghaei juga menyebut persoalan pengelolaan Selat Hormuz masih harus dibahas lebih lanjut antara Iran dan Oman.
Ia menolak anggapan bahwa Iran akan memberlakukan tarif tol bagi kapal yang melintas dan menegaskan biaya yang dibahas hanya terkait layanan navigasi dan perlindungan jalur pelayaran.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio masih optimistis kesepakatan dapat dicapai dalam waktu dekat. Rubio mengatakan Washington lebih memilih solusi diplomatik, meski tetap membuka opsi lain jika negosiasi gagal.
Sementara itu, Donald Trump menegaskan bahwa kesepakatan dengan Iran harus menghasilkan hasil besar dan bermakna, atau tidak akan ada kesepakatan sama sekali.
Iran juga menegaskan memorandum yang sedang dibahas belum menyentuh isu teknis program nuklir, termasuk stok uranium yang diperkaya tinggi.
Teheran hanya bersedia melanjutkan negosiasi lebih lanjut dalam 60 hari mendatang tanpa komitmen menyerahkan cadangan uranium ke negara lain.
Selain itu, Iran menilai tekanan politik domestik di AS membuat pemerintahan Trump sulit mengambil keputusan terkait pencairan aset Iran yang dibekukan di Qatar senilai hingga 12 miliar dolar AS.
Baghaei turut menuduh Israel berupaya menggagalkan proses kesepakatan tersebut.
Meski begitu, Iran dan Oman dikabarkan tetap melanjutkan pembahasan terkait mekanisme keamanan pelayaran di Selat Hormuz demi menjaga perdagangan internasional tetap berjalan aman dan lancar.-***
















