TERASJABAR.ID – Kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menuding Amerika Serikat masih berupaya membuka kembali konflik bersenjata dan berharap Teheran menyerah di bawah tekanan politik maupun ekonomi yang terus meningkat.
“Pergerakan musuh, baik yang terang-terangan maupun yang terselubung, menunjukkan bahwa meskipun ada tekanan ekonomi dan politik, mereka belum meninggalkan tujuan militer mereka dan berupaya untuk memulai perang baru,” kata Ghalibaf dalam pesan audio di situs web resminya, seperti ditulis TRTWorld pada hari Rabu malam, 20 Mei 2026.
Menurutnya, meski tekanan ekonomi dan politik terus dilakukan, tujuan utama Amerika Serikat tetap sama, yakni memulai perang baru dan memaksa Iran menerima tuntutan yang dianggap berlebihan.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Teheran dan Washington, meski kedua pihak masih saling bertukar proposal untuk mengakhiri konflik yang pecah sejak 28 Februari lalu.
Gencatan senjata sendiri telah berlaku sejak 8 April.
Pada hari yang sama, Islamic Revolutionary Guard Corps juga memperingatkan bahwa perang dapat meluas ke luar kawasan Timur Tengah apabila Amerika Serikat dan Israel kembali melanjutkan serangan militer terhadap Iran.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengancam akan melakukan serangan baru jika Iran tidak menyetujui kesepakatan damai.
Ghalibaf mengatakan Iran harus meningkatkan kesiapan untuk memberikan respons tegas terhadap kemungkinan serangan baru.
Ia menegaskan negaranya tidak akan tunduk pada intimidasi dalam kondisi apa pun.
Meski mengakui tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat Iran semakin berat, Ghalibaf menyerukan pentingnya persatuan nasional.
Menurutnya, situasi saat ini merupakan “perang kehendak” yang akan menentukan arah masa depan Iran.-***
















