TERASJABAR.ID – Di balik unggahan prestasi, aktivitas organisasi, dan senyum di keseharian, banyak orang sebenarnya sedang mengalami kelelahan mental yang tidak terlihat.
Mereka tampak baik-baik saja di permukaan, namun berjuang keras di baliknya.
Fenomena ini dikenal sebagai Duck Syndrome, yaitu kondisi ketika seseorang terlihat tenang dan mampu menjalani kehidupan, padahal sedang mengalami tekanan berat secara emosional dan psikologis.
Istilah ini menggambarkan seperti bebek yang tampak mengapung tenang di permukaan air, tetapi kaki-kakinya terus bergerak cepat di bawah.
Kondisi ini banyak ditemukan pada mahasiswa yang harus menyeimbangkan tuntutan akademik, organisasi, dan kehidupan sosial.
Tekanan tersebut sering muncul dari banyaknya aktivitas yang diambil, dorongan untuk selalu terlihat sukses, serta budaya perbandingan di media sosial.
Duck Syndrome juga dipicu perfeksionisme dan kebutuhan untuk menjaga citra diri.
Banyak orang merasa tidak boleh terlihat lemah, sehingga memilih menyembunyikan kelelahan.
Akibatnya, emosi tertekan dan tidak tersalurkan dengan baik.
Dampaknya tidak ringan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu stres, kecemasan, insomnia, penurunan motivasi, hingga burnout.
Ketidaksesuaian antara perasaan dan tampilan luar juga menciptakan tekanan psikologis yang terus-menerus dan membuat seseorang merasa terisolasi.
Untuk mengatasinya, penting untuk lebih jujur terhadap diri sendiri, mengelola ekspektasi, dan berani berbicara tentang perasaan yang dialami.
Dukungan sosial dari teman, lingkungan yang sehat, serta layanan konseling juga berperan penting dalam membantu pemulihan.
Pada akhirnya, tidak apa-apa untuk tidak selalu terlihat kuat.
Mengakui kelelahan adalah langkah awal untuk menjaga kesehatan mental dan menemukan kembali keseimbangan hidup.-***
















