TERASJABAR.ID – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, berupaya meningkatkan tekanan terhadap Amerika Serikat dengan menjelaskan kepada negara-negara Eropa mengenai tawaran Teheran terkait stok uranium yang diperkaya tinggi.
Ia juga memaparkan rencana Iran terkait masa depan pengelolaan Selat Hormuz.
Langkah ini disampaikan usai perundingan panjang di Islamabad yang belum menghasilkan kesepakatan.
Setelah dialog tersebut, Araghchi melakukan komunikasi dengan sejumlah pejabat Eropa dan Timur Tengah, termasuk perwakilan dari Prancis, Jerman, Arab Saudi, Oman, dan Qatar.
Ia menegaskan bahwa proses diplomatik masih berlanjut meski pembicaraan berlangsung alot selama lebih dari 20 jam.
Selama setahun terakhir, hubungan Eropa dengan Iran cenderung terpinggirkan oleh kebijakan Presiden AS Donald Trump yang lebih fokus bekerja sama dengan Israel.
Namun, meningkatnya perbedaan pandangan antara AS dan Eropa serta tekanan ekonomi membuat Teheran mulai melihat Eropa sebagai potensi penyeimbang dalam negosiasi.
Negara-negara Eropa sendiri tengah mengkaji pembentukan misi maritim defensif untuk menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz setelah konflik berakhir.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, bahkan menginisiasi pertemuan lanjutan bersama Inggris guna membahas rencana tersebut.
Di sisi lain, Iran mempertimbangkan penerapan tarif bagi kapal komersial yang melintas di selat itu, bahkan membuka kemungkinan penggunaan mata uang kripto guna menghindari sanksi.
Meski begitu, sejumlah analis meragukan keberlanjutan kebijakan tersebut.
Terkait program nuklir, Iran menyatakan kesediaan untuk mengurangi persediaan uranium sebagai bentuk itikad baik, namun tetap menolak menyerahkannya.
Para diplomat Eropa menilai negosiasi masih sulit, terutama karena tidak ada jaminan bahwa pencabutan sanksi AS akan bersifat permanen.-***

















