Dalam perspektif Etnografi Komunikasi, momen-momen ketika peserta saling menyanggah, menguatkan, atau mencari titik temu bukanlah gangguan dalam diskusi. Justru di sanalah proses komunikasi yang paling bermakna berlangsung.
Bandung ternyata bukan kota yang memiliki satu cerita.
Bandung adalah kota yang terus menerus membangun cerita melalui dialog berbagai aktor.
Mengapa City Branding Sering Tidak Pernah Selesai?
Selama ini city branding sering dipahami sebagai persoalan logo, slogan, atau kampanye promosi.
Padahal hasil FGD menunjukkan bahwa persoalan sesungguhnya jauh lebih mendasar.
City branding adalah hasil dari proses sosial.
Ia dibentuk oleh pemerintah, pelaku usaha, media, komunitas, kreator konten, bahkan wisatawan yang membagikan pengalaman mereka melalui media sosial.
Karena itu, city branding bukan sesuatu yang dapat diputuskan secara sepihak.
Ia harus dinegosiasikan, diuji, disepakati, dan terus diperbarui sesuai perubahan zaman.
Ketika proses tersebut tidak dilakukan secara berkelanjutan, berbagai narasi akan berkembang sendiri-sendiri sehingga identitas kota menjadi terfragmentasi.
Mengapa Bandung Membutuhkan Think Tank Pariwisata?
Salah satu kesimpulan paling penting dari FGD ini adalah perlunya sebuah ruang yang mampu mempertemukan seluruh aktor dalam satu proses berpikir bersama.
Inilah alasan lahirnya Think Tank Pariwisata Kota Bandung melalui Lab Inovasi Pariwisata Kota Bandung.
Think Tank ini tidak dibentuk untuk menggantikan peran pemerintah ataupun Badan Promosi Pariwisata, melainkan menjadi ruang kolaboratif yang menjembatani penelitian akademik, pengalaman industri, aspirasi masyarakat, dan kebutuhan penyusunan kebijakan.
Melalui pendekatan Evidence-Based Tourism Policy, setiap rekomendasi diharapkan lahir dari data, riset, dialog, dan kolaborasi, bukan semata berdasarkan persepsi atau kepentingan jangka pendek.
Dari Kontestasi Menuju Kolaborasi
Pelajaran terbesar dari FGD ini bukanlah menemukan satu slogan baru bagi Kota Bandung.
Pelajaran terbesarnya adalah menyadari bahwa keberagaman narasi merupakan kekayaan yang harus dikelola, bukan dipertentangkan.
Bandung tidak membutuhkan semakin banyak slogan.
Bandung membutuhkan ruang yang mampu menyatukan berbagai perspektif menjadi arah pembangunan yang disepakati bersama.
Karena kota tidak dibangun hanya oleh infrastruktur atau destinasi wisata.
Kota dibangun oleh cerita yang dipercaya masyarakatnya.
Dan cerita itu lahir melalui dialog, riset, inovasi, dan kolaborasi.
Peluncuran Lab Inovasi Pariwisata Kota Bandung dan terbentuknya Think Tank Pariwisata Kota Bandung menjadi langkah awal menuju tata kelola pariwisata yang lebih partisipatif, berbasis pengetahuan, dan berorientasi pada masa depan.
FGD ini membuktikan bahwa identitas Bandung bukanlah sesuatu yang sudah selesai dirumuskan.
Ia adalah proses yang terus berkembang, dinegosiasikan, dan dibangun bersama.
Bandung tidak dibangun oleh satu narasi.
Bandung dibangun oleh kolaborasi.***
















