(Mengapa Kota Ini Membutuhkan Think Tank Pariwisata?)
(Tinjauan Focus Group Discussion tentang Kontestasi, Negosiasi Makna, dan Masa Depan City Branding Kota Bandung)
Oleh: Subchan Daragana / Wakil Ketua Bandung Tourism Promotion Board ( BP2KB )
Bandung selalu memiliki banyak julukan. Kota Kembang, Paris van Java, Kota Kreatif, Kota Kuliner, Kota Heritage, Kota Pendidikan, hingga City of Design. Dalam beberapa tahun terakhir bahkan muncul narasi baru seperti kota lifestyle, kota pengalaman (city of experience), kota olahraga, kota festival, hingga kota slow living.
Semua narasi tersebut tidak lahir begitu saja. Masing-masing tumbuh dari pengalaman, kepentingan, sejarah, bahkan cara pandang yang berbeda terhadap Bandung. Persoalannya, ketika terlalu banyak narasi berkembang tanpa arah yang sama, identitas kota justru berpotensi menjadi kabur.
Pertanyaan sederhana kemudian muncul: Bandung sebenarnya ingin dikenal sebagai kota apa?
Pertanyaan inilah yang menjadi titik awal pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) Narasi Pariwisata Kota Bandung yang diselenggarakan oleh Lab Inovasi Pariwisata Kota Bandung bekerja sama dengan Bandung Tourism Promotion Board dan Universitas Bakrie.
Namun hasil diskusi justru menunjukkan sesuatu yang jauh lebih menarik daripada sekadar mencari slogan baru.
Bandung Tidak Kekurangan Identitas
Selama hampir tiga jam diskusi, para peserta yang terdiri atas pemerintah, akademisi, pelaku industri, komunitas budaya, media, kreator konten, organisasi profesi, hingga wisatawan, tidak pernah benar-benar bersepakat mengenai satu identitas tunggal Kota Bandung.
Sebagian peserta meyakini Bandung tetap relevan sebagai Kota Kreatif, mengingat sejarahnya sebagai anggota UNESCO Creative Cities Network dan berkembangnya ekosistem ekonomi kreatif.
Kelompok lain melihat Bandung lebih tepat dikenal sebagai Kota Kuliner, karena mayoritas wisatawan datang untuk menikmati pengalaman gastronomi yang sangat beragam.
Komunitas budaya menegaskan bahwa kekuatan Bandung justru terletak pada sejarah dan warisan budayanya. Mereka mengingatkan bahwa Gedung Merdeka, Konferensi Asia Afrika, kawasan Braga, hingga jejak arsitektur kolonial merupakan identitas yang tidak dimiliki kota lain.
Sementara itu, pelaku industri menyoroti potensi Bandung sebagai kota festival, kota olahraga, kota musik, hingga kota belanja yang selama ini belum dikembangkan secara konsisten.
Bahkan muncul gagasan baru mengenai Bandung sebagai Kota Pengalaman (City of Experience), yaitu kota yang dikenang bukan semata karena destinasinya, melainkan karena pengalaman yang dirasakan wisatawan selama berada di Bandung.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa Bandung sesungguhnya tidak mengalami krisis identitas.
Bandung justru memiliki terlalu banyak identitas.
Yang Diperdebatkan Bukan Kota, Melainkan Maknanya
Menariknya, dinamika FGD menunjukkan bahwa peserta tidak sedang memperdebatkan benar atau salahnya sebuah identitas. Mereka sedang melakukan negosiasi makna.
Pemerintah berbicara dari perspektif kebijakan. Industri berbicara dari sudut pandang pasar. Komunitas berbicara tentang pelestarian nilai budaya.
Media dan kreator konten berbicara mengenai persepsi publik.
Sementara wisatawan berbicara berdasarkan pengalaman yang mereka rasakan secara langsung.
Setiap kelompok membawa narasi yang sah menurut pengalaman dan kepentingannya masing-masing.
















