TERASJABAR.ID – Perut buncit kerap dianggap sekadar masalah penampilan, padahal kondisi ini dapat menjadi tanda adanya penumpukan lemak viseral di sekitar organ dalam tubuh seperti hati, pankreas, dan usus.
Lemak jenis ini berbeda dengan lemak di bawah kulit karena memiliki dampak yang lebih serius terhadap kesehatan.
Kementerian Kesehatan mengingatkan bahwa penumpukan lemak viseral dapat meningkatkan risiko penyakit kronis seperti diabetes tipe 2, penyakit jantung, hipertensi, hingga stroke.
Lemak viseral juga bersifat aktif secara metabolik sehingga dapat memicu peradangan dan mengganggu fungsi tubuh jika kadarnya berlebihan.
Menariknya, seseorang tidak harus memiliki berat badan berlebih untuk mengalami kondisi ini.
Individu dengan berat badan normal pun dapat menyimpan lemak viseral tinggi yang ditandai dengan lingkar perut membesar.
Karena itu, ukuran lingkar perut dinilai lebih relevan dibanding sekadar angka timbangan atau indeks massa tubuh (IMT) dalam menilai risiko kesehatan.
Sejumlah faktor pemicu perut buncit antara lain pola makan tinggi gula dan makanan olahan, kurang aktivitas fisik, stres berkepanjangan, serta perubahan metabolisme akibat usia.
Untuk mengurangi risiko tersebut, para ahli menyarankan penerapan gaya hidup sehat secara menyeluruh, seperti rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, membatasi minuman manis, tidur cukup, serta mengelola stres dengan baik.
Pemeriksaan kesehatan berkala juga penting untuk mendeteksi risiko penyakit sejak dini.
Perut buncit tidak hanya persoalan estetika, tetapi juga sinyal penting yang tidak boleh diabaikan karena berkaitan erat dengan kualitas kesehatan jangka panjang.-***
















