TERASJABAR.ID – Kementerian Perindustrian terus memperkuat pengembangan sektor industri fesyen dan kriya nasional secara berkelanjutan melalui berbagai program dan kegiatan pengembangan industri, khususnya bagi pelaku industri kecil dan menengah (IKM).
Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan inovasi desain, pemanfaatan teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta perluasan akses pasar domestik dan internasional guna meningkatkan daya saing produk fesyen dan kriya Indonesia.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui peresmian Gedung Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) di Kabupaten Badung, Bali, oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Jumat (8/5).
BPIFK merupakan satuan kerja di bawah Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) yang resmi dibentuk pada tahun 2024, dengan cikal bakal program pemberdayaan industri kreatif yang telah dimulai sejak tahun 2015 melalui Bali Creative Industry Center (BCIC).
“Industri fesyen dan kriya memiliki peran penting dalam upaya mendukung perekonomian nasional. Pada triwulan I tahun 2026, PDB industri fesyen dan kriya tercatat sebesar Rp120,13 triliun, meningkat 7,89 persen dibandingkan triwulan I tahun 2025 yang sebesar Rp111,34 triliun,” kata Menperin.
Ia menjelaskan, pertumbuhan industri fesyen dan kriya pada tahun 2025 mencapai 4,93 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan tahun 2024 yang sebesar 2,43 persen.
Menperin menambahkan, sektor fesyen dan kriya juga mengalami peningkatan investasi yang signifikan.
Pada triwulan I tahun 2026, investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di sektor tersebut mencapai Rp4,83 triliun, sedangkan Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp9,38 triliun, sehingga total investasi menembus Rp14,21 triliun.

















