TERASJABAR.ID – Harapan tercapainya terobosan dalam negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat kian memudar.
Kebuntuan yang telah berlangsung hampir dua bulan belum menunjukkan tanda-tanda mereda, meskipun aktivitas diplomasi di kawasan terus berlangsung intens.
Kedua pihak masih bersikeras dengan posisi masing-masing tanpa indikasi kompromi, dan belum ada jadwal perundingan baru yang menjanjikan penyelesaian konflik.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melanjutkan diplomasi ke Pakistan setelah sebelumnya singgah di Oman.
Ia menyebut pembicaraan berlangsung produktif, namun tetap meragukan keseriusan Washington dalam jalur diplomasi.
Araghchi juga dijadwalkan bertemu Vladimir Putin, menandakan semakin eratnya hubungan Teheran dengan Rusia.
Di sisi lain, Donald Trump membatalkan kunjungan utusannya ke Pakistan, dengan alasan tawaran Iran dinilai belum memadai.
Keputusan ini diambil setelah Iran menolak perundingan langsung selama blokade AS masih berlangsung.
Kebuntuan sebelumnya juga terlihat dalam pertemuan di Islamabad yang gagal menghasilkan kesepakatan.
Perbedaan tajam mencakup isu pengayaan nuklir, masa depan Selat Hormuz, hingga dukungan Iran terhadap kelompok militan.
Iran menolak tuntutan penghentian program nuklir dan penyerahan uranium yang telah diperkaya.
Ketegangan meningkat ketika AS memperketat blokade, sementara Iran berupaya mengontrol Selat Hormuz dan bahkan berencana mengenakan tarif tinggi bagi kapal yang melintas.
Situasi ini memicu lonjakan harga energi global dan berpotensi mengganggu ekonomi dunia.
Meski analis menilai Iran kini memiliki posisi tawar lebih kuat, kedua pihak tetap bertahan pada tuntutan maksimalis.
Di tengah konflik yang meluas hingga kawasan Timur Tengah, termasuk Lebanon dan Israel, korban jiwa terus bertambah, memperlihatkan betapa kompleks dan berbahayanya situasi saat ini.-***
















