Sebelumnya, Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman yang juga menjabat Menteri Pertanian telah menyatakan bahwa tidak ada perubahan harga bagi beras SPHP.
Kendala kemasan bahan baku plastik telah diatasi Bapanas bersama Perum Bulog supaya penyaluran beras SPHP tidak menemui aral melintang.
“Ada namanya SPHP. Itu beras yang untuk penyeimbang kalau ada yang mau menaikkan harga. Nah SPHP, kita tidak naikkan. Tetap harganya seperti sekarang. Jadi sekarang kualitasnya bagus karena pupuknya bagus, tepat waktu, tepat volume, dan airnya bagus,” kata Amran.
Guna mengatasi tantangan ketersediaan kemasan plastik untuk beras SPHP juga telah diputuskan dapat menggunakan kemasan beras SPHP stok tahun 2023-2025.
Bapanas memperbolehkan sepanjang ada penyesuaian informasi pada label kemasan dengan kondisi saat ini, seperti HET, tanggal kedaluwarsa, dan informasi penting lainnya.
Kepala Bapanas juga menegaskan bahwa saat ini komoditas beras tidak lagi memberikan andil inflasi yang signifikan. Inflasi beras cenderung stabil dan melandai yang tentu salah satunya berkat program SPHP beras yang masif berskala nasional.
Dalam data BPS, tingkat inflasi beras di tahun 2026 menjadi lebih stabil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Inflasi beras bulanan paling tinggi di 2023 dan 2024 pernah mencapai 5,61 persen di September 2023 dan 5,28 persen di Februari 2024.
Sementara tingkat inflasi beras bulanan selama tahun 2025, tertingginya adalah 1,35 persen pada Juli. Namun di tahun 2026, inflasi beras bulanan yang terbaru dan paling tinggi ada di Maret dengan indeks yang masih cukup rendah 0,65 persen.***
Sumber: Siaran Pers Bapanas

















