Oleh : Dwi Mukti Wibowo, S.H, M.H
TERASJABAR.ID – Kenapa dianggap keberutungan? Karena fase ini sebagai anugerah besar dan istimewa yang tidak bisa dicapai oleh setiap orang. Keistimewaannya berupa bebas dari rutinitas yang sebelumnya membelenggu. Menunda kesempatan pensiunan untuk merajut alur kehidupan, berkontribusi sosial dan mengenal eksternal multikehidupan. Ada berbagai dimensi dan perspektifnya diluar itu yg belum dituntaskan. Jadi, fase pensiun ibarat lepasnya tali kekangan, dan setelahnya memberikan kesempatan seluas luasnya untuk mengenal kehidupan lain di luar yg dilakoni selama ini. Yang lebih multidimensi, lebih kompleks dan bahkan lebih menantang.
Saneca mengatakan, keberuntungan adalah tempat dimana persiapan bertemu dengan peluang. Maka, pertemuan pada tanggal 17 Juni 2026 ini merupakan realisasi yang menjadi momentum sebagai titik temu antara Enok Rusmanah, Kepala Sekolah Lansia Ceria dengan Dwi Mukti sebagai tamu undangan para Komunitas Lansia Ceria di perhelatan acara Lansia Berwirausaha. Ratusan lebih peserta yg tergabung dalam Standar S1 dan Standar S2 memadati Gedung Pertemuan di wilayah Pasteur. Tepatnya di Sarimanah Tengah Blok 5, Sarijadi, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung, Jawa Barat.

Konfusius pernah menyatakan bahwa setiap orang memiliki dua kehidupan. Kehidupan yang kedua dimulai saat kita menyadari jika kita memiliki satu kesempatan hidup. Masa pensiun bebas menentukan prioritas hidup yang sesungguhnya. Termasuk mempersiapkan keberuntungannya. Salah satunya dengan berwirausaha.
Kewirausahaan lansia di Sekolah Lansia Ceria adalah Program Pemberdayaan yang memfasilitasi kelompok lanjut usia untuk tetap mandiri secara ekonomi, dan aktif secara sosial melalui kegiatan ber bisnis. Usaha kewirausahaan lansia atau pensiunan dirancang khusus agar lebih fleksibel, beresiko rendah dan sesuai dengan kapasitas fisik lansia atau pensiunan yang notabene berusia termuda 60 tahun dan tertua 85 tahun.
Apa yang mendorong pensiunan atau lansia mau berwirausaha? Pertama-tama adalah semangat mereka yang tersirat dari slogan aktif, sehat, produktif, bahagia, berdaya dan bermartabat. Maknanya inilah yang melatarbelakangi sekaligus menindaklanjuti niatnya untuk berwirausaha. Disamping adanya kebutuhan finansial paska pensiunan, termasuk biaya untuk menjaga kesehatan. Mereka ingin selalu tetap aktif dan produktif, selagi masih butuh biaya. Lansia juga ingin memanfaatkan keahlian dan pengalamannya yang memiliki selling point. Menjaga kesehatan mental agar tidak stress. Masih berinteraksi dengan lingkungan sosial dan menjalin networking. Kegiatan ini dilakukan agar mereka tetap bergerak sehingga memiliki semangat hidup. Yang penting, usahanya harus bersifat fleksibel, berbasis hobby, tidak beresiko tinggi, bisa dikelola di rumah dan didukung oleh keluarga.

Apa yang menjadi hambatan atau kendala  Lansia Berwirausaha? Yaitu stamina kesehatan Lansia yang utama. Diikuti keterbatasan permodalan, aset dan akses ke pembiayaan. Latar belakang pendidikan dan keahlian juga menjadi faktor penghambat. Ditambah persaingan bisnis dan minimnya program pendampingan. Juga adanya kesenjangan adaptasi teknologi yang masih dianggap beban oleh mereka karena kebanyakan masih gaptek.
Dari aspek permodalan darimana perolehan modal yang menjadi faktor pendukung usaha Lansia? Dana pribadi tentunya. Yang berasal dari tabungan pribadi, hasil manfaat pensiun maupun pendapatan dari pesangon dan lainnya. Bisa juga dari keluarga atau kerabat terdekat. Atau dari sumbangan donatur maupun Corporate Social Responbility BUMN dan atau korporasi. Serta dari Program Pemerintah, baik dari Kemensos. Pemda atau Dinas atau PKK berupa Program Lansia Produktif.
Terakhir dari Lembaga Keuangan Mikro, meskipun komersiil dan sifatnya tanggung renteng
Apa yang menjadi tolok ukur kemajuan atau kesuksesan Lansia berwirausaha? Tentu saja ada penghasilan lebih sebagai keuntungan finansial usahanya. Dengan itu, Pensiunan dapat lebih mandiri yang ditandai dengan kesehatan mental, kepuasan dan kualitas hidupnya. Dengan stamina yang prima lansia terhindar dari stres, aktif bersosialisasi dan memperoleh penerimaan diri dari keluarga maupun masyarakat.
Hal yang patut dicermati adalah usia senja bukanlah halangan bagi Lansia untuk tetap produktif. Menjadi wirausaha di masa paska pensiun atau masa lanjut usia membuktikan bahwa pengalaman hidup dan jam terbangnya sangat diperlukan karena keduanya merupakan modal bisnis yang terbaik. Usia boleh saja senja, namun semangat berkarya harus terus dan tetap menyala. Menjadi tua adalah kepastian, tetapi menjadi mandiri dan produktif adalah pilihan. Jadi tidak ada kata terlambat untuk belajar hal yang baru termasuk berwirausaha.
Akhir kata, bagi lansia soal keuntungan finansial bukanlah tujuan utama untuk berwirausaha. Untuk hal ini sepertinya kita sependapat dengan Jack Ma, bahwa tidak ada masalah jika usaha yang dilakukan itu berhasil atau gagal. Pengakuan dari yang sudah didapatkan sudah merupakan bentuk dari sebuah kesuksesan. Akhirnya, semuanya tinggal garis tangan dan peruntungan nasib masing-masing. Setiap orang memiliki jalannya masing-masing. Yang penting sudah usaha. Dan usaha yang gigih tidak akan mengkhianati hasil. Semoga.(*)
Ketua Layanan Bantuan Hukum Persatuan Pensiunan Indonesia (LBH PPI) – Provinsi Jawa Barat.
















