Oleh : Dwi Mukti Wibowo, S.H, M.H
Bernard Baruch pernah mengatakan jika usia hanyalah angka – sandi untuk catatan. Seorang manusia tidak bisa menghentikan pengalamannya. Dia terus menggunakannya. Pengalaman dapat mencapai lebih banyak, dengan lebih sedikit energi dan waktu. Jadi wajar saja jika pensiun hanyalah batasan usia. Bukan membatasi produktivitasnya. Karena secara fisik para pensiunan masih tangguh dengan sisa energi dan semangatnya. Secara psikis dan mental mereka sangat matang. Karena bertahun-tahun mereka sudah tertempa ditempat kerjanya.
Pensiun ibarat sebuah kertas kosong. Menjadi kesempatan mendesign ulang hidup menjadi sesuatu yg baru dan berbeda (Patrick Foley). Yang penting dalam mengisi kekosongan waktu, pensiunan akan mengisi aktivitasnya sehari-hari dengan berinteraksi, bersilaturahmi dan berjejaring dengan rekan-rekan baru yg menjadi komunitasnya. Bukan hanya sekedar ngumpul sambil ngopi bareng. Tetapi mereka butuh untuk berkomunikasi, bertukar pikiran dan terkadang menjajagi kemungkinan aktivitas-aktivitas yang baru untuk berbagi pengalaman yg semula berbeda.
Pensiun mungkin merupakan akhir, penutup, tapi juga merupakan awal yg baru. Menjadi akhir, karena sudah terlepas dari pekerjaan lama. Namun baru mengawali pertemanan baru dari semula ngopi pagi. Akhirnya menjadi perkongsian yang baru dengan mengekplorasinya menjadi ajang bisnis maupun kegiatan non profit. Kegiatan positif dan kreatif ini menjadi hal baru yg sangat bermanfaat bagi yang bersangkutan, keluarganya maupun masyarakat. Mengingat masing-masing memiliki potensi dan prospek lapangan usaha yang berbeda. Perkumpulan yang terangkai akan menjadi kekuatan yang signifikan tanpa mengeluarkan biaya yang besar dan menggunakan fisik yang optimal. Hanya butuh strategi dan fleksibilitas untuk menyesuaikan waktu dan komitmen untuk bertemu dan tindak lanjut.
Bagi sebagian dari kita, pensiun memberikan waktu untuk mengejar impian kita. Ketertinggalan dapat dicapai cukup dengan bekal komunikasi yang intens by WA dalam merancang suatu aktivitas atau kegiatan yang selama ini masih sebatas impian kita. Selebihnya, dengan kekuatan berkolaborasi antar anggota, kita bisa mencapai dan menggiring impian sesuai tujuan dan harapan.
Jika mereka berkumpul, banyak potensi dan peluang dari kegiatan sosial sampai ke bisnis. Wajar, masing2-masing dari mereka punya akses dan mitra strategis sewaktu mereka bekerja sebelumnya. Tinggal merangkai keterlibatan mereka satu sama lain, maka akan mampu merefleksikan jika mereka masih eksis dan diperhitungkan. Sehingga meskipun kita sudah pensiun dari pekerjaan, tak akan pernah berhenti untuk membuat kontribusi yang sangat berarti dalam hidup ini (Steven Covey).
Akhir kata, bagi warga pensiunan, keberadaan warung kopi itu bukan hanya tempat berteduh atau ajang mengobrol, tapi sudah merupakan sarana pemersatu sekaligus kantor informal tempat berkegiatan usaha mereka saat ini.
Dan benar kata pepatah jika rajin bersilaturahmi, maka akan memperpanjang usia. Setidaknya saat bercanda dan bersenda gurau masing2 tak ingat lagi pada usia tuanya. Bahkan pada penyakitnya. Maka, biarkan mereka menciptakan komunitas sendiri. Merancang kegiatan kebersamaan mereka sendiri. Mumpung masih dibekali umur panjang untuk berbuat yg lebih bermanfaat. Sebelum peluit datang mengundang. Tiba waktunya masing-masing untuk berpulang.
Ketua Layanan Bantuan Hukum Persatuan Pensiunan Indonesia – Provinsi Jawa Barat













