TERASJABAR.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump meninggalkan China tanpa membawa terobosan besar dalam bidang perdagangan maupun dukungan konkret dari Beijing terkait upaya mengakhiri konflik dengan Iran.
Hal ini terjadi meskipun selama dua hari kunjungannya ia beberapa kali memberikan pujian kepada Presiden China Xi Jinping.
Kunjungan tersebut merupakan perjalanan pertama presiden AS ke China sejak 2017 dan bertujuan untuk menghasilkan capaian nyata, terutama di tengah tekanan politik domestik menjelang pemilu paruh waktu pada November.
Namun, hasil yang diharapkan tidak sepenuhnya terwujud.
Ketegangan Diplomasi di Balik Kunjungan
Dalam pertemuan tersebut, Xi Jinping dilaporkan memperingatkan Trump bahwa kesalahan dalam menangani isu sensitif seperti Taiwan dapat memicu konflik serius.
Trump sendiri menyatakan bahwa Xi menegaskan penolakannya terhadap kemerdekaan Taiwan, namun ia tidak memberikan komitmen apa pun terkait hal tersebut.
Selain isu Taiwan, pembahasan juga mencakup hubungan dagang, Iran, hingga stabilitas kawasan.
Meski ada kesepakatan terbatas seperti rencana pembelian pesawat Boeing dan produk pertanian, nilai serta cakupan kesepakatan dinilai jauh di bawah ekspektasi awal.
China juga menekankan konsep baru dalam hubungan bilateral yang disebut “stabilitas strategis yang konstruktif,” menggantikan pendekatan “persaingan strategis” yang sebelumnya digunakan Amerika Serikat.
Namun, para analis menilai belum ada langkah konkret dari Beijing terkait isu Iran maupun kerja sama strategis lainnya.
Trump mengakui bahwa tidak ada komitmen spesifik dari China dalam isu Iran, meski kedua pihak menyatakan keinginan menjaga stabilitas kawasan.
Ia juga tidak membawa pulang kesepakatan signifikan terkait tarif, teknologi, maupun pasokan mineral penting seperti logam tanah jarang.
Secara keseluruhan, kunjungan ini dianggap lebih bersifat simbolis dibanding menghasilkan perubahan substansial dalam hubungan kedua negara.-***
















