TERASJABAR.ID – Jerat pinjaman online ilegal dan judi online semakin mengganas, membidik generasi muda sebagai mangsa empuk. Melihat bahaya ini, OJK bersama Karang Taruna Kota Tasikmalaya menggelar Training of Trainers tentang bahaya pinjol dan judol.
Tujuannya jelas yakni membentuk benteng literasi keuangan dan kesadaran digital bagi pemuda agar tidak terjerumus ke lubang hitam keuangan ilegal. Kegiatan ini bukan sekadar seminar basa-basi. Ini adalah langkah perang melawan jerat digital yang mampu menghancurkan masa depan anak bangsa dalam sekejap. Pinjol ilegal menawarkan kemudahan semu dengan bunga mencekik, sementara judi online menjanjikan kekayaan instan yang ujungnya adalah kehancuran ekonomi dan mental.
“Melalui kegiatan ini kami berharap lahir pemuda-pemudi yang menjadi agen edukasi di lingkungan masyarakat, serta mampu melindungi diri, keluarga, dan lingkungan dari bahaya pinjol ilegal dan judi online,” tegas Ketua Karang Taruna Herry Sulihudin, Selasa (26/5/2026)
“Kami atas nama Karang Taruna kota Tasikmalaya, seruan keras pun dilontarkan kepada seluruh generasi muda, bangun kecerdasan finansial, bijak bermedia digital, dan waspada terhadap segala aktivitas keuangan ilegal. Jangan mau terlena oleh kemudahan sesat yang ditawarkan pinjol dan judol, karena di balik itu ada jebakan utang, ancaman teror, dan masa depan yang hancur,” tandasnya.
“Berani menolak pinjol dan judol! Jangan mudah terlena oleh kemudahan sesat yang justru dapat menghancurkan masa depan. Jadilah pemuda yang produktif, kreatif, yang memiliki kesadaran finansial yang kuat demi masa depan yang lebih baik,” serunya
Strategi ke depan sudah disiapkan. Sosialisasi bahaya pinjol dan judol tidak akan berhenti di tingkat kota. Sasaran berikutnya adalah menjangkau hingga ke tingkat paling bawah RT dan lingkungan masyarakat. Tim Karang Taruna kini tinggal menunggu waktu dan koordinasi final dari OJK untuk menggerakkan aksi door-to-door.
Langkah ini menjadi sinyal bahwa perang melawan pinjol ilegal dan judi online harus dimulai dari akar rumput. Literasi keuangan tidak cukup diajarkan di ruang kelas, tetapi harus ditanamkan langsung di tengah masyarakat melalui agen-agen muda yang berani bersuara dan berani menolak jerat digital.
OJK dan Karang Taruna Tasikmalaya menunjukkan komitmen generasi muda harus cerdas, produktif, digadaikan demi klik dan pinjaman instan yang menyesatkan.*
















