TERASJABAR.ID – Pimpinan perusahaan pelayaran global Maersk menyatakan bahwa pembukaan kembali Strait of Hormuz diperkirakan hanya memberi dampak terbatas terhadap arus pengiriman barang dunia.
“Pembukaan kembali Selat Hormuz, baik itu terjadi dalam beberapa hari mendatang atau beberapa bulan mendatang, akan berdampak terbatas pada arus kargo,” kata CEO Maersk, Vincent Clerc, dalam sebuah wawancara dengan BBC News, dikutip dari The Guardian pada Kamis, 7 Mei 2026.
Meski demikian, industri pelayaran masih menghadapi lonjakan besar biaya energi akibat konflik yang berlangsung di kawasan tersebut.
Vincent mengungkapkan bahwa biaya bahan bakar perusahaan hampir meningkat dua kali lipat sejak konflik dimulai.
Kondisi itu menambah beban operasional hingga sekitar 500 juta dolar AS per bulan.
Namun, menurutnya, kenaikan biaya tersebut telah dialihkan kepada pelanggan melalui tarif pengiriman yang lebih tinggi.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran vital yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Penutupan jalur itu sejak akhir Februari telah memicu kenaikan harga energi global.
Meski Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan kemungkinan dibukanya kembali jalur tersebut jika Iran menyetujui kesepakatan tertentu, industri pelayaran diperkirakan tetap menghadapi tingginya biaya bahan bakar dan kekhawatiran keamanan pelayaran di kawasan Teluk.
Saat ini, lebih dari 800 kapal dan sekitar 20.000 awak kapal masih tertahan di sekitar wilayah tersebut.
Maersk juga menyebut salah satu kapal yang dioperasikan anak perusahaannya berhasil melewati selat dengan pengawalan militer AS tanpa insiden.
Meski biaya meningkat, Maersk tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan permintaan kontainer global tahun ini sebesar 2 hingga 4 persen.-***

















