Advertisement

BBWSC Sebut Kondisi Aliran Sungai Citepus Terparah Ada di Kota Bandung

BBWSC Sebut Kondisi Aliran Sungai Citepus Terparah Ada di Kota Bandung
Tribunjabar.id
Editor: Malda Teras Bandung —Selasa, 14 Januari 2020 18:33 WIB

Terasjabar.id - Sungai Citepus di Kota Bandung disebut sebagai daerah aliran sungai yang kondisinya parah oleh Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (BBWSC).

Hujan deras dengan curah hujan 20 milimeter per detik, sungai bisa meluap.

Dampak yang biasa terjadi, banjir di kawasan Pasteur hingga Pagarsih Kota Bandung.

Pantauan Tribun Jabar di Sungai Citepus, tepatnya di Kelurahan Pajajaran Kecamatan Cicendo, sampah plastik bekas rumah tangga berserakan di dasar sungai.

Sebagian nyangkut sebagian terbawa air.

Posisi sungai berada dekat dengan landasan pacu Bandara Husein Sastranegara dan Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sirnaraga.

Di kiri dan kanannya perumahan padat penduduk. Di antaranya permukiman kumuh beratap asbes, minim penerangan dan luasnya tidak lebih dari 10 meter persegi.

Pipa-pipa saluran pembuangan air dari rumah dibuang langsung ke sungai. Jendela rumah pun tampak menghadap ke sungai.

"Kalau di utara sudah gelap kemudian turun hujan deras, air sungai pasti naik. Bagian belakang rumah saya menghadap ke sungai, saat air naik, air bisa sampai jendela. Kalau paling parah, bisa masuk ke rumah. Tapi ini resiko tinggal di pinggir sungai," ujar Asep Kosasih (40), warga di pingiran Sungai Citepus Kelurahan Pajajaran Kecamatan Cicendo.

Asep menempati lahan milik pengelola Lanud Husein Sastranegara. Menurutnya, kondisi saat ini membaik setelah Pemkot Bandung membangun Danau Retensi Citepus.

"‎Sebelum ada Danau Retensi Citepus, air sungai ini meluap membanjiri pemukiman warga. Jadi jika air sungai sedang tinggi, otomatis airnya masuk atau parkir dulu ke kolam retensi. Kalau kolam retensi penuh, air disedot kembali kemudian dibuang lagi ke sungai," kata Hendi, operator jaga Danau Retensi Citepus.

Pemulung sampah berjalan di dasar Sungai Citepus kemudian masuk ke lubang di dinding sungai yang tersambung ke pemukiman kumuh.
Pemulung sampah berjalan di dasar Sungai Citepus kemudian masuk ke lubang di dinding sungai yang tersambung ke pemukiman kumuh. (Tribun Jabar/Mega Nugraha)

Menurutnya, Sungai Citepus di bantaran sungainya sudah dibanung pemukiman warga. Sehingga, wajar saja jika air meluap.

"‎Jadi Sungai Citepus ini kalau hujan dapat kiriman juga dari sungai kecil lainnya. Kalau Danau Retensi Citepus sudah penuh, pasti ke Pagarsih banjir," kata dia.

Ada Usman (49), warga sekitar yang berprofesi sebagai pemulung. Sebagai gambaran, dasar sungai hingga pemukiman warga ketinggiannya‎ sekitar 5 meter.

‎Di dinding sungai, beberapa titik terdapat lubang yang tersambung menuju permukiman kumuh. Untuk menuju dasar sungai memungut sampah, Usman keluar lewat salah satu lubang tersebut.

Adapun lubang tersebut sengaja dibuat untuk membuang air yang jatuh dari Jalan Citepus melewati pemukiman warga.

"Ini saya kumpulkan sampah plastik berupa botol yang terbawa dari hulu. Saya tinggal disana (menunjuk permukiman beratap asbes). Kalau hujan deras, air sungai naik. Airnya suka masuk ke rumah saya lewat lubang itu," kata Usman.

Enah (60), tinggal di rumah berukuran 15 meter persegi beratap asbes. Nyaris tidak ada sinar matahari bisa masuk ke dalam rumah berdinding triplek itu.

Dinding sebelah timurnya langsung menghadap ke sungai. Sedangkan di sebelah baratnya Jalan Citepus.

Di depan rumahnya, ada lubang berdiameter setengah meter yang tersambung langsung dengan dasar sungai. Enah menempati rumah itu sejak 35 tahun lalu di tanah milik Husen Sastranegara.

"Jadi suka banjir sebetis dari sungai dan dari jalan. Enggak bisa pindah, mau pindah ke mana. Tapi sudah biasa sih," ujar dia.

‎Kepala Bidang Operasi dan Pengendalian BBWSC, M Dian menerangkan, sepanjang aliran Sungai Citepus, semuanya sudah beralih fungsi jadi bangunan. Air tidak bisa lagi meresap ke tanah.

"Saat hujan deras, air melimpah ke sungai. Laju run off air jadi cepat. Sungai tidak bisa menampung air hingga akhirnya melimpah ke jalan," kata dia.

Potensi banjir di Bandung terukur dengan rumusan jika curah hujan mencapai 50 milimeter per jam.

Namun di wilayah Citepus, curah hujan di bawah 50 milimeter saja bisa berpotensi banjir di kawasan Pasteur, Pagarsih hingga kawasan Pajagalan.

"‎Curah hujan kan satuannya milimeter. Biasanya pengalaman di tempat lain, di cekungan Bandung, hujan di atas 50 milimeter potensi banjir. Tapi khusus Sungai Citepus dan anak sungainya, Cianting, 20 sampai 25 milimeter saja air sungai meluap dan potensi banjir," kata dia.

Kata Dian, itu tidak lepas dari ‎kondisi Sungai Citepus dan Sungai Cianting anak sungainya yang banyak berubah.

"Kondisi sungainya sempit dan dangkal. Di sekitarnya sudah banyak bangunan. Memang kemarin ada tol air di Pagarsih, tapi setelah itu ada bottleneck," ujar Dian.

Di sisi lain, pemerintah memang sudah membangun kolam retensi Citepus untuk mengurangi beban volume air di sungai itu.

"Memang sudah berfungsi. Tapi belum optoimal karena daya tampungnya, 15-20 menit hujan deras sudah penuh. Jadi memang harus banyak kolam tampungan di sekitar hulu," ujar Dian.

Solusi jangka panjang untuk mencegah luapan Sungai Citepus memang perlu pembebasan lahan sekitar daerah aliran sungai. Tapi itu membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit.

"Solusinya membuat ground tank atau kolam tampungan di setiap lahan di kantor pemerintah," ucapnya.(Tribunjabar.id)



Sungai Citepus Bandung Kota bandung Sungai Citarum


Related Post



Loading...