Empat Daerah Digoyang Gempa Bumi sampai Siang Ini, RISHA Solusi Rumah Tahan Gempa untuk Warga

Empat Daerah Digoyang Gempa Bumi sampai Siang Ini, RISHA Solusi Rumah Tahan Gempa untuk Warga
Tribunnews.com Rumah Instan Sehat dan Sederhana (RISHA), solusi rumah tahan gempa untuk masyarakat Indonesia.
Editor: Indra Hot News —Kamis, 22 Juli 2021 14:14 WIB

TERASJABAR.ID - Sampai Kamis (22/7/2021) siang ini tercatat empat titik di Indonesia diguncang gempa bumi.

Gempa terjadi di Mamasa, Sulawesi Barat; Tanggamus, Lampung; serta Pacitan dan Malang, Jawa Timur.

Gempa di Malang terjadi hari ini pukul 08.28 WIB.

Tercatat magnitudonya 3,2.

LIHAT JUGA:






View this post on Instagram











A post shared by Teras Jabar (@terasjabar.id)


Pusat gempa terlcatat ada di laut selatan Malang.

Tepatnya 160 kilometer arah tenggara Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Menurut BMKG Yogyakarta gempa terkini di Malang terjadi di kedalaman 10 kilometer.

Melihat kekuatan dan jarak gempa bumi terkini ini, kecil kemungkinan getaran atau guncangan lindu dirasakan oleh warga di Kabupaten Malang dan sekitarnya.

Rawan Bencana

Indonesia memang negeri yang rawan bencana dan tinggal di wilayah rawan bencana selalu berisiko.

Bencana bisa datang sewaktu-waktu, baik gempa bumi, tsunami, banjir, maupun longsor.

TONTON JUGA:

Namun, banyak masyarakat yang tidak sadar bahwa mereka tinggal di daerah rawan bencana.

Tak mengherankan, jika terjadi bencana gempa, banyak korban berjatuhan karena tertimpa runtuhan bangunan rumah.

Misalnya saat gempa terjadi di Lombok, NTB, beberapa tahun lalu tercatat sekitar 555 orang menjadi korban, umumnya tertimpa bangunan rumah.

Ratusan ribu orang mengungsi tidak berani tinggal di rumah, khawatir ada bencana susulan.

Karena itulah Kementerian PUPR melalui Balitbang menghadirkan solusi rumah tahan gempa yang memiliki standar keselamatan bagi penghuninya.

Air pasang terjadi di laut Desa Tehoru setelah gempa berkekuatan 6,1 magnitudo mengguncnag wilayah tersebut, Rabu (16/6/2021). (DOK WARGA via kompas.com)
Air pasang terjadi di laut Desa Tehoru setelah gempa berkekuatan 6,1 magnitudo mengguncnag wilayah tersebut, Rabu (16/6/2021). (DOK WARGA via kompas.com) ()

Rumah yang diberi nama RISHA (Rumah Instan Sehat dan Sederhana) itu bisa menahan gempa hingga 8 skala Richter.

Teknologi RISHA ini dikembangkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Penelitian dan Pengembangan Perumahan dan Pemukiman (Puslitbang Perkim) Kementerian PUPR.

Berbeda dengan rumah pada umumnya, RISHA merupakan struktur bangunan dengan konsep modular dan knock down (bongkar pasang).

Untuk membuat RISHA bisa dilakukan dengan menggabungkan panel-panel beton dan baut yang dibangun secara bertahap berdasarkan modul.

Lantaran ukuran komponennya mengacu pada ukuran modular maka komponennya memiliki sifat fleksibel dan efisien dalam mengkonsumsi bahan bangunan.

Ketika terjadi gempa di NTB, atas perintah langsung dari Presiden Jokowi dalam kunjungan meninjau korban gempa pada tanggal 13 Agustus 2018, Presiden meminta agar segera dibangun rumah tahan gempa RISHA untuk membenahi fasilitas-fasilitas kesehatan dan pendidikan yang hancur karena gempa.

BACA JUGA:Polrestabes Bandung Terima Titipan 10 Ribu Paket Sembako untuk Disalurkan kepada Masyarakat

“Harus kita mulai pembangunan rumah dengan konstruksi RISHA, yang nanti akan dikawal oleh kementerian PU, sehingga rumah yang dibangun betul-betul rumah tahan gempa,” jelasnya.

Saat itu Menteri PUPR langsung mengintruksikan Badan Litbang PUPR untuk membangun rumah contoh tahan gempa teknologi RISHA di provinsi NTB.

Badan Litbang membentuk satgas pelaksanaan pembangunan rumah contoh tahan gempa sekaligus melakukan alih teknologi untuk rekonstruksi paska gempa bumi di NTB.

Tim Satgas ini membangun 70 unit bangunan RISHA yang dimanfaatkan untuk kantor pemerintahan, fasilitas kesehatan, rumah masyarakat dan fasilitas umum dan sosial.

Palang Merah Indonesia (PMI) menerapkan rumah aman gempa (retrofitting) berbasis masyarakat di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Palang Merah Indonesia (PMI) menerapkan rumah aman gempa (retrofitting) berbasis masyarakat di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. (surabaya.tribunnews.com)

Menurut Lukman Hakum, PLT Balitbang Kementerian PUPR, RISHA menjadi solusi perumahan bagi masyarakat Indonesia yang memiliki standar keselamatan yang tinggi menghadapi gempa bumi.

"Bangunan dengan teknologi RISHA bisa dibangun oleh semua lapisan masyarakat di daerah manapun, bukan hanya di daerah yang tertimpa bencana saja."

"Lantaran konsep RISHA dikembangkan untuk seluruh masyarakat berdasarkan kondisi geografis Indonesia,” jelasnya.

Selain itu, RISHA juga sangat ekonomis, bisa dibangun oleh masyarakat oleh masyarakat berpenghasilan rendah yang belum memiliki rumah.

Biaya satu unit bangunan RISHA tipe 36 hanya memerlukan anggaran Rp 50 juta.

Untuk membangun (perakitan) hanya memerlukan waktu 9 jam dengan jumlah tenaga kerja 3 orang saja.

Proses pembuatan komponen dan perakitannya terpisah, tapi masing-masing memerlukan waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan metode konvensional.

RISHA memerlukan komponen yang terbagi menjadi 3 kategori yaitu: komponen struktural, komponen pengisi, dan komponen utilitas.

Dengan menggunakan konsep knock down semua komponen bisa dibongkar pasang sesuai keperluan.

Meski menganut konsep knock down, RISHA dapat dimodifikasi dengan mengadopsi potensi lokal misalnya ciri khas rumah adat daerah.

Dari sisi fleksibilitas terletak pada kemungkinan untuk menjadi rumah tumbuh, baik vertika maupun horizontal.

Selain itu memungkinkan pula untuk membangun rumah yang lebih besar, misalnya untuk kantor, sekolah atau pasar.

Model pembuatannya memakai system pre-pabrikasi yaitu, komponen-komponennya dicetak terlebih dahulu sebelum kemudian dirakit seperti mainan lego.

Namun begitu, bukan berarti rumah sehat ini tidak berkualitas.

Ada standar tertentu yang harus dipenuhi oleh setiap komponen penyusunnya, sehingga hasil akhirnya memenuhi standar SNI, Standar Nasional Indonesia. (*)

(SUMBER TRIBUNJABAR.ID)

RISHA gempa bumi BMKG


Loading...