Dengan permintaan tepung tapioka yang terus meningkat, produk tersebut memiliki peluang besar untuk masuk ke berbagai segmen pasar, termasuk industri makanan olahan.
“Selama ini kebutuhan tepung tapioka cukup tinggi dan digunakan di banyak produk pangan. Dengan pengolahan yang lebih baik, kami optimistis produk dari daerah ini bisa memenuhi kebutuhan pasar dengan kualitas yang lebih terjamin,” ujar Andi.
Dampak bantuan juga dirasakan langsung oleh Khoirudin, pelaku UMKM sekaligus penerima manfaat bantuan alat di Desa Tajur.
Ia menyampaikan bahwa penggunaan peralatan baru telah meningkatkan efisiensi produksi secara signifikan. Jika sebelumnya proses pengolahan masih mengandalkan mesin manual berbasis diesel dengan kapasitas terbatas, kini telah beralih ke sistem otomatis yang lebih mudah dioperasikan.
“Alhamdulillah kami sangat terbantu untuk di alat alatnya ya pak, alhamdulillah tadinya memakai mesin diesel yang harus diengkol dan menggunakan solar, ya alhamdulillah sekarang udah otomatis pakai ini pakai dinamo (mesin listrik),” ungkap Khoirudin.
Menurutnya, kapasitas produksi yang sebelumnya hanya berkisar satu hingga dua ton per hari kini dapat meningkat hingga sekitar lima ton, bahkan lebih, tergantung pada ketersediaan bahan baku.
Peningkatan ini memberikan ruang yang lebih besar bagi pelaku usaha untuk mengembangkan skala produksi sekaligus memperluas pasar.
Penguatan sektor pengolahan ini juga sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam membangun ekosistem pangan berbasis potensi lokal.
Kabupaten Bogor dikenal memiliki produksi singkong yang cukup besar, namun selama ini sebagian besar masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah.
Melalui intervensi pengolahan, nilai tambah komoditas dapat ditingkatkan dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
Integrasi antara produksi, pengolahan, hingga distribusi juga membuka peluang keterkaitan dengan program strategis nasional, termasuk penyediaan bahan pangan untuk kebutuhan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dengan kualitas yang semakin terstandar, produk olahan singkong berpotensi menjadi bagian dari rantai pasok pangan bergizi di tingkat masyarakat.
Bapanas menegaskan akan terus mendorong penguatan UMKM pangan lokal melalui pendekatan yang terintegrasi, mencakup peningkatan teknologi produksi, akses terhadap pasar, serta kolaborasi dengan pemerintah daerah dan pelaku usaha.
Langkah ini diharapkan mampu mempercepat terbentuknya ekosistem pangan lokal yang berdaya saing sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.***
Sumber: Siaran Pers Bapanas













