TERASJABAR.ID – Pasar Induk Cikurubuk sekarat. Perda kenaikan retribusi disahkan, pedagang ditendang. Aspirasi dibuang ke tong sampah. Ada 800 ruko kosong melompong ada di Jongko pakaian, sendal, fashion, pemilik mulai meninggalkan jongkonya. Dijual tak laku, dikontrak tak ada yang mau. Pasar sepi, pembeli pada kabur.
Ketua Himpunan Pedagang Pasar Tasikmalaya H. Ahmad Jahid, SH murka. “Kondisi pasar nggak nyaman. Konsumen ogah datang. Ruko kosong karena pedagang nyerah. Kalau dipaksa bayar retribusi naik, ini bukan lagi soal gaji. Ini soal hidup mati keluarga mereka,” tegasnya Jahid.
Fakta di lapangan lebih sadis. Pedagang merintih sampai pukul 11.00 dagangan belum juga laku. Kondisi ini bukan lagi mengkhawatirkan. Ini menyedihkan.
Ironisnya, Pemkot tutup mata. Upaya ramaikan pasar nol besar. Pembeli nggak betah, pengunjung ilfeel. Tapi tarif retribusi malah digenjot naik.
“Ini berbanding terbalik. Pasar sekarat, retribusi malah mencekik dan kenaikannya nggak main-main. Tembus 80 persen. Ekonomi rakyatpun menjadi ambruk,”ucapnya
Hipatas sudah gerilya. Audensi ke DPRD, Pemkot, Dinas sudah dilakoni berkali-kali. Sekarang surat audensi kembali dilayangkan ke DPRD. Jawabanya tinggal menunggu. “Kami minta retribusi ditinjau ulang. Balikin ke tarif lama. Kalau tarif lama, pedagang siap bayar. Kalau sekarang, kami dicekik,” tuntut Jahid.
Pukulan telak lain dilayangkan. Pembuatan Perda kenaikan retribusi, Pemkot jalan sendiri. Hipatas nggak diajak duduk bareng. Pedagang nggak dilibatkan. “Ini ngawur. Main naik mendadak. Infrastruktur pasum pasos aja belum diserahin, kok tarif sudah digetok,”ungkap dia.**
















