“Dengan dukungan teknologi, pembelajaran dapat menjadi lebih menarik dan memberikan pemahaman yang lebih mendalam bagi murid. Ini bagian dari upaya kita menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan zaman,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa dalam era keterbukaan informasi, pengelolaan partisipasi publik juga menjadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu, diperlukan kemampuan untuk memilah antara aspirasi yang konstruktif dengan informasi yang tidak relevan.
“Kita harus mampu membedakan antara voice dan noise. Keterbukaan tetap penting, tetapi harus diiringi dengan ketajaman dalam memahami kebutuhan nyata di lapangan,” ungkapnya.
Sebagai penutup, Menteri Mu’ti mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat kolaborasi dalam mendukung transformasi pendidikan nasional.
“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Dengan gotong royong, kita dapat memastikan bahwa setiap anak Indonesia memperoleh layanan pendidikan yang terbaik,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menyampaikan bahwa program Sekolah Rakyat merupakan bentuk nyata gotong royong lintas sektor dalam menjangkau anak-anak dari keluarga kurang mampu yang belum mendapatkan akses pendidikan yang layak.
“Sekolah Rakyat dirancang untuk menjangkau anak-anak yang selama ini belum tersentuh layanan pendidikan secara optimal. Intervensinya tidak hanya pada anak, tetapi juga pada keluarganya, agar mereka dapat keluar dari siklus kemiskinan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada kolaborasi lintas kementerian serta dukungan masyarakat luas.
















