TERASJABAR.ID – Gejolak harga energi global mulai berdampak pada sektor perikanan.
Para pelaku usaha perikanan tangkap skala besar dan menengah sejak akhir April dilaporkan sudah merasakan kenaikan harga solar non-subsidi yang cukup signifikan.
Sementara itu, nelayan kecil juga menghadapi tantangan lain berupa ketersediaan solar subsidi yang belum sepenuhnya mudah diperoleh.
Anggota Komisi IV DPR RI, Riyono, menyampaikan bahwa berdasarkan hasil peninjauan dan dialog langsung dengan nelayan di Trenggalek, harga solar subsidi masih stabil dan belum mengalami kenaikan.
“Saya sudah cek ke nelayan di Trenggalek dan berdialog langsung dengan mereka. Solar subsidi masih aman dan harganya tidak naik, namun saat ini belum semua melaut karena cuaca sedang terang bulan dan ombak besar,” kata Riyono, seperti ditulis Parlementaria pada Kamis (7/5/2026).
Namun, aktivitas melaut belum sepenuhnya berjalan normal karena faktor cuaca, seperti kondisi terang bulan dan gelombang tinggi.
Ia menjelaskan bahwa dalam catatan APBN, alokasi solar subsidi untuk nelayan di bawah 30 GT pada 2025 sedikit menurun sekitar 1,3 persen dibanding tahun sebelumnya.
Pada 2025, alokasi tercatat sebesar 18,41 juta kiloliter dengan realisasi 18,88 juta kiloliter, yang berarti melebihi kuota.
Sementara pada 2023, alokasi sebesar 17,40 juta kiloliter dengan realisasi 17,62 juta kiloliter atau sekitar 92,7 persen.
Riyono menambahkan, harga solar subsidi yang ditetapkan sekitar Rp6.800 per liter dengan subsidi pemerintah Rp1.000 per liter, seharusnya bernilai Rp7.800 per liter.
Menurutnya, harga tersebut masih tergolong terjangkau dan membantu meringankan beban nelayan kecil.
Ia menegaskan pentingnya kehadiran negara yang cepat dan responsif dalam menghadapi dinamika energi.
Ketidakstabilan harga energi, lanjutnya, harus diantisipasi agar tidak mengganggu aktivitas nelayan.
Riyono juga menyoroti bahwa sekitar 90 persen protein dunia dari sektor perikanan dihasilkan oleh nelayan kecil.
Karena itu, keberlangsungan aktivitas mereka sangat penting untuk menjaga penghidupan hampir tiga juta rumah tangga nelayan di Indonesia.
Dalam kunjungannya ke Pacitan dan Trenggalek, ia turut menyerap berbagai aspirasi, mulai dari ketersediaan solar yang mudah diakses, harga ikan yang stabil, hingga dukungan bagi keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir.-***
















