Besarnya potensi industri pakaian dan sepatu olahraga tercermin dari jumlah pelaku usaha dan kontribusinya terhadap perekonomian nasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, jumlah industri kecil pakaian jadi mencapai sekitar 623 ribu unit usaha dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 1,2 juta orang. Sementara itu, industri menengah pakaian jadi tercatat sebanyak 1.200 unit usaha yang menyerap sekitar 39 ribu tenaga kerja.
Selain itu, subsektor kulit, barang dari kulit, dan alas kaki juga menunjukkan kinerja yang kuat dengan sekitar 48 ribu industri kecil dan 415 industri menengah yang menyerap lebih dari 139 ribu tenaga kerja.
Pada Triwulan I Tahun 2026, industri pakaian jadi berkontribusi sebesar 0,99 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, sedangkan industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki berkontribusi sebesar 1,30 persen.
Menurut Reni, potensi industri tersebut juga terlihat dari kinerja ekspornya. Data Pusat Data dan Informasi Kemenperin menunjukkan bahwa komoditas pakaian jadi (konveksi) dari tekstil dan sepatu olahraga termasuk dalam 20 komoditas manufaktur dengan nilai ekspor terbesar pada Februari 2026, masing-masing sebesar USD626,32 juta dan USD340,81 juta.
“Potensi tersebut menunjukkan bahwa industri pendukung ekosistem olahraga nasional memiliki peluang besar untuk terus tumbuh dan menjadi bagian penting dalam penguatan struktur industri manufaktur Indonesia,” ujarnya.
Selain pakaian dan sepatu olahraga, industri alat olahraga nasional juga terus menunjukkan perkembangan positif. Industri ini tersebar di berbagai daerah dan didukung oleh sentra-sentra IKM yang menjadi bagian penting dalam rantai pasok industri nasional. Industri alat olahraga juga mampu menyerap hingga 15 ribu tenaga kerja dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Dalam lima tahun terakhir, industri alat olahraga nasional menunjukkan tren yang semakin baik dengan kondisi neraca perdagangan yang terus mencatatkan surplus.
Pada tahun 2025, nilai ekspor industri alat olahraga meningkat sebesar 11,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Produk-produk olahraga Indonesia juga telah berhasil menembus pasar internasional, antara lain Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Belanda, dan Inggris.
Kemenperin berharap kegiatan Business Matching ISAW 2026 dapat memperkuat hubungan business-to-business (B2B) antara industri binaan dengan buyer, sektor ritel, organisasi olahraga, serta berbagai mitra usaha potensial lainnya.

















