TERASJABAR.ID – Gemuruh sorakan ribuan personel, ketika Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi alias Kang Dedi Mulyadi (KDM) memimpin Apel Gabungan HUT Pemadam Kebakaran ke-107, Satpol PP ke-76, dan Satlinmas ke-65 tingkat Provinsi Jawa Barat, Rabu(24/6/2026). Dengan suara lantang, KDM menghantam kesadaran para kepala daerah jika ingin duit wisatawan mengalir deras, satu syarat mutlak yakni daerah harus tertib, bersih, dan indah. Titik.
“Kalian pikir wisatawan mau selfie di tumpukan sampah. Mau belanja di trotoar yang dipakai parkir liar, Lupakan Orang datang ke daerah karena matanya dimanjakan, hatinya nyaman, dompetnya rela terbuka.
Kalau kota kalian kumuh, ya sudah, biarkan wisatawan lari ke tempat lain yang lebih waras menatanya!” tegas KDM di hadapan Bupati Garut Abdusy Syakur Amin, jajaran Forkopimda, serta gabungan personel Damkar, Satpol PP, dan Satlinmas dari seluruh Jawa Barat.
Gubernur yang dikenal blak-blakan itu menunjuk langsung ke arah Balai Niskala, bangunan peninggalan kolonial yang masih berdiri kokoh di depan Alun-Alun Garut.
“Saya berdiri di tempat yang sangat estetik ini. Coba lihat ke depan Balai Niskala itu sejarah, itu daya tarik. Tapi apa gunanya gedung cantik kalau sekelilingnya semrawut, PKL liar, kabel menggantung seperti sarang laba-laba, Tata dan Rapikan Bangunan di sebelah sini juga harus ikut rapi, jangan jadi noda di tengah keindahan!” serunya.
KDM menegaskan, tugas Satpol PP bukan sekadar menertibkan, tapi menjaga wajah daerah. Kebersihan, ketertiban, dan keindahan adalah modal dagang paling murah tapi paling mahal nilainya. “Satpol PP itu garda depan. Kalau kalian lembek, daerah akan hancur.
“Tapi kalau komandan punya nyali, pasukannya akan jadi pasukan berani mati. Sebaliknya, kalau komandannya penakut, anak buahnya akan cari aman, sembunyi di balik meja. Pilih mau jadi yang mana, ” jelasnya.
Pengalaman panjang KDM sebagai Wakil Bupati, Bupati, hingga Gubernur membuatnya tahu persis peran vital Satpol PP. Selama ini, sinergi dengan TNI dan Polri menjadi kunci menjaga lingkungan tetap tertib dan indah. Tanpa itu, Jawa Barat tak akan punya daya saing di era pariwisata modern.
Lebih keras lagi, KDM menyindir tantangan Pendapatan Asli Daerah yang semakin berat. Regulasi berubah, lingkungan menuntut, tapi satu peluang emas tetap terbuka: pariwisata, hotel, restoran. “Itu lumbung uang daerah! Tapi ingat, wisatawan tidak akan bayar mahal untuk duduk di tempat kotor. Mereka bayar mahal untuk pengalaman. Ciptakan ruang publik yang indah, bersih, tertata, estetik, maka uang akan datang dengan riang gembira,”ucapnya
“Bayangkan, Jalan rapi, taman wangi, bangunan terawat, pedagang tertib. Wisatawan betah, belanja, menginap, makan. PAD naik, rakyat sejahtera. Syarat daerah jadi pusat pariwisata itu sederhana: tertata, tertib, dan indah. Kalau tidak bisa memenuhi itu, jangan mimpi jadi destinasi!” pungkasnya disambut tepuk tangan menggelegar.
Di akhir apel, KDM tak lupa mengapresiasi dedikasi Damkar dan Satlinmas yang selama ini menjadi garda terdepan dalam melindungi masyarakat. “Kalau ada kebakaran, kalian datang pertama. Kalau ada bencana, kalian yang pasang badan. Itu bukti nyata pengabdiannya.
Apel gabungan ini bukan sekadar seremoni. Ini tamparan keras sekaligus cambuk semangat agar Jawa Barat, mulai dari Garut, berani berubah. Karena di era sekarang, daerah yang indah akan dilirik dunia. Daerah yang kumuh, akan ditinggalkan zaman.(*)

















