TERASJABAR.ID – Wakil Walikota Tasikmalaya Rd. Diky Candranegara menyampaikan blak-blakan. Rasa malu itu muncul setelah melihat Ustadz Syarif tukang cireng keliling, rutin menyisihkan hasil dagangnya itu membagikan santunan untuk 250 anak yatim piatu di setiap Jumat.
“Mudah-mudahan banyak yang malu,” ujar Diky.
“Supaya dari malu itu kita sadar, harus berbagi sebelum mati. Ini anugerah yang baik yang dilakukan Ustadz Syarif. Alhamdulillah, luar biasa. Saya terus terang terinspirasi.”ujar Diky, Kamis(25/6/2026)
Menurut Diky, berbagi bukan soal menunggu kaya atau punya lebih. “Intinya bukan harus yang tidak punya apa-apa baru berbagi, tetapi tidak.” Artinya, siapa saja bisa berbagi, sesuai kemampuan.
Diky mengajak masyarakat berbagi lewat cara-cara makruf dan baik. “Dengan senyuman, dengan sikap, dengan ucapan, dengan perilaku.
Mudah-mudahan kita bisa melakukan itu. Insyaallah akan memberikan kebaikan untuk kita sendiri.”
Ia menilai, kebaikan tak selalu diukur rupiah. Senyum kepada pedagang, ucapan terima kasih kepada petugas, sabar di jalan, jujur dalam transaksi kecil dan semua itu bentuk berbagi. Dan hal itulah yang ia lihat pada Ustadz Syarifuddin.
Sejak 2017, Ustadz Syarifuddin rutin menyalurkan santunan dari hasil jualan cireng. Didukung Perkumpulan Nasi Goreng Tegal, kegiatan itu tak pernah absen bahkan sejak pandemi Covid-19. Kini santunan menjangkau 250 anak yatim tiap Jumat.
“Beliau tidak menunggu kaya. Beliau berbagi dari apa yang ada. Dan itu bikin saya malu,” kata Diky.
Rasa malu yang ia maksud bukan untuk merendahkan, tapi membangunkan hati yang menunda kebaikan dengan dalih “nanti kalau sudah punya”.
“Berbagi sebelum mati,” tegas Diky. “Karena yang kita bawa pulang bukan berapa banyak yang kita kumpulkan, tapi berapa banyak yang kita berikan.” pungkas Diky (*)













