TERASJABAR.ID – Di tengah denyut ekonomi Kota Tasikmalaya yang terus bergerak, masih ada anak yang tumbuh dengan keterbatasan akses pendidikan dan literasi. Tantangan itu tidak hanya soal jarak dan transportasi, tetapi juga kondisi sosial ekonomi yang membuat fasilitas belajar informal belum merata di berbagai wilayah.
Bagi sebagian keluarga di Tasikmalaya, aktivitas harian menjadi tumpuan ekonomi. Dalam kondisi seperti itu, akses terhadap buku bacaan, ruang belajar yang nyaman, hingga fasilitas pendukung pendidikan sering kali sulit dijangkau anak. Tidak sedikit anak yang tumbuh tanpa banyak pilihan bahan bacaan di luar buku pelajaran sekolah. Padahal, kebiasaan membaca sejak dini sangat menentukan kemampuan berpikir, berimajinasi, dan membuka wawasan.
Di tengah keterbatasan itu, semangat belajar anak Tasikmalaya justru tumbuh sederhana. Mereka tetap datang ke sekolah, belajar bersama teman, dan memanfaatkan ruang seadanya untuk membaca maupun bermain. Situasi inilah yang mendorong munculnya gagasan menghadirkan ruang belajar lebih layak dan menyenangkan bagi anak di wilayah tersebut.
Wakil Wali Kota Tasikmalaya Rd Diky Candranegara menilai, pengembangan ruang literasi tidak bisa dikerjakan sendiri oleh pemerintah. Perlu kolaborasi dengan anak muda, pegiat pendidikan, komunitas, hingga dunia usaha. Kehadiran penggerak literasi lokal menjadi penting karena mereka memahami karakter, kebutuhan, dan cara pendekatan yang dekat dengan anak di Tasikmalaya.
“Pendidikan dan literasi anak di kota seperti Tasikmalaya juga perlu mendapat perhatian serius. Jangan sampai anak hanya mengenal buku pelajaran. Mereka perlu ruang untuk membaca cerita, mengenal dunia, dan bermimpi lebih besar,” ujar Diky, Rabu(3/6/2026).
Diky bercerita, anak di sejumlah kelurahan sangat antusias ketika ada ruang baca yang diisi buku baru dan fasilitas belajar nyaman. Bagi sebagian anak, pengalaman membaca buku cerita bergambar maupun belajar bersama di ruang nyaman menjadi hal yang jarang mereka rasakan. Antusiasme itu menjadi bukti bahwa kebutuhan literasi ada dan harus dijawab.
“Anak anak di sini punya rasa ingin tahu besar. Ketika ada tempat belajar nyaman dan menyenangkan, mereka senang datang, membaca, bahkan berkumpul untuk belajar bersama. Itu membuat mereka punya ruang baru untuk bermimpi,” katanya.
Ruang baca yang dirancang bukan hanya tempat menyimpan buku, melainkan ruang tumbuh bersama. Buku bacaan anak, cerita bergambar, pengetahuan umum, hingga fasilitas pendukung belajar disiapkan agar pengalaman membaca lebih menyenangkan. Ruang itu juga menjadi tempat berkumpul, berdiskusi, bermain edukatif, dan mengenal hal baru di luar lingkungan sehari hari.
Diky berharap, ke depan semakin banyak pihak yang mau terlibat menyediakan ruang baca di lingkungan masing. Bisa di balai RW, di rumah warga, di toko, atau di tempat usaha. Pemerintah kota siap mendukung konsep dan fasilitasi agar keberadaan ruang baca tidak membebani masyarakat tetapi tetap fungsional dan menarik bagi anak, “harap Diky(*)















