TERASJABAR.ID – Sampah yang menjadi permasalahan dibeberapa kabupaten bahwakan Nasional. Kabupaten Garut setiap hari mengangkut sampah dalam volume cukup besar yaitu 285 ton yang diangkut dan dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) yang berlokasi di Pasir Bajing, hal tersebut yang disampaikan oleh kepala Dinas Lingkungan Hidup Jujun Juansyah Nurhakim. Senin (04/05/2026)
Jujun juga menyampaikan bahwa permasalahan sampah tidak hanya berakhir di TPA saja melainkan dari rumah pun harus sudah dilakukan melalui pemilihan sampah organik dan anorganik.
“Ya sebenarnya ini bukan hanya di TPA, ya seharusnya di rumah-rumah itu harus ada penyelesaian minimal sampah organik, karena rata-rata itu 60% sampah organik,” ujar Jujun.
Menurut keterangan Jujun masyarakat juga bisa membantu mengurangi volume sampah dengan cara sampah organik dipisahkan dengan membuat biopori, sehingga dengan adanya biopori maka sampah yang berakhir di TPA akan berkurang.
Ia menyampaikan, membuat biopori itu sangat mudah, cukup membuat lubang dengan kedalaman 1 meter, diameter lubangnya 10 cm, dibuatkan dengan jarak antar lubang setengah meter, dan buat saja enam titik.
“Biopori yang pertama misalnya penuh dalam waktu 2 minggu, loncat kedua ketiga, sampai akhirnya pada saat yang ke-6 bisa balik ke-1, itu kan jadi tanah kalau itu kan seperti itu,” katanya.
Lanjut Jujun, yang kedua bisa dilakukan pemilahan sampah mana yang memiliki nilai ekonomi atau bisa dijual, seperti kardus, plastik, botol-botol.
“Terus yang keduanya juga bisa dilakukan pemilahan, mana yang mempunyai nilai ekonomi gitu, seperti kardus, plastik, botol, cup plastik, minimal kan kayak gitu lah. Nah itu bisa dilakukan pemilahan gitu ya insyaallah gitu ya. Artinya yang ke-TPA juga berkurang,” lanjutnya.
Saat ini sampah yang masuk ke TPA masih kondisi tercampur antara organik dan anorganik,Jujun mengatakan. Sebaiknya dipilah dulu agar sampah yang sampai ke TPA hanya tinggal residu saja.
“Iya cuma residunya aja yang akan masuk ke TPA, masalahnya kan sekarang mereka bercampur yang masuk ke TPA,” katanya.
Menurutnya, edukasi terkait biopori ke masyarakat belum dilakukan secara masif, namun sering disampaikan ketika melakukan sosialisasi, dan jika dilakukan pemilahan sampah anorganik serta biopori dilakukan maka sekitar 20 persen residu yang masuk ke TPA.
“Jadi bukan bicara sampah selesai di TPA, jadi justru bersumber dirumah, kalau ini sudah ada biopori anggap berarti tinggal 40 persen, karena 60 persen nya kan udah, terus 20 persen yang dipilah, berarti residunya nya hanya 20 persen yang masuk ke TPA,” katanya.**
















