TERASJABAR.ID – Tugu Koperasi yang berdiri di Jalan Mohammad Hatta, Kota Tasikmalaya, selama ini terlihat kusam dan nyaris terlupakan. Monumen bersejarah seluas kurang lebih satu hektar itu kedatangan tamu penting. Sekretaris Menteri Koperasi Ahmad Zabadi turun langsung meninjau kawasan yang menjadi saksi lahirnya denyut koperasi Indonesia, Selasa(2/6/2026)
Plh Wali Kota Tasikmalaya Rd Diky Candranegara, Sesmenkop berkeliling melihat kondisi fisik tugu dan lingkungan sekitar. Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan kelayakan Kota Tasikmalaya sebagai salah satu lokasi peringatan Hari Koperasi Nasional.
Rencana tersebut masih dalam tahap kajian. Keputusan final akan diinformasikan lebih lanjut kepada Pemerintah Kota Tasikmalaya setelah seluruh aspek teknis dan historis dipertimbangkan.
Momen kunjungan itu langsung dimanfaatkan Diky Candra untuk menyampaikan gagasan besar. Ia menginformasikan hasil pertemuannya dengan Kementerian Kebudayaan terkait keinginan menjadikan kawasan Tugu Koperasi sebagai cagar budaya.
“Harapan kami, Hari Koperasi Nasional bisa disatukan dengan pencanangan Tugu Koperasi atau kawasannya sebagai cagar budaya,” kata Diky.
Ia menerangkan, konsep dasar sudah dipaparkan oleh Kepala Disindagkop dan diperkuat Plh Sekda. Intinya, ada kultur koperasi yang kuat di Kota Tasikmalaya.
Diky menyebut Tasikmalaya memiliki embrio positif dalam pengembangan koperasi. Sejarah mencatat, tanggal 12 Juli yang kini diperingati sebagai Hari Koperasi Nasional ditetapkan saat Kongres Koperasi pertama digelar di Kota Tasikmalaya. Fakta itu menjadikan Tasikmalaya sebagai kota yang lekat dengan denyut koperasi Indonesia.
Dengan lahirnya Inpres Nomor 9 Tahun 1998 tentang Koperasi Desa ke Koperasi Desa Kelurahan, justru diawali dari Tasikmalaya. Secara administratif Kota Tasikmalaya tidak memiliki desa, sehingga muncul gagasan Koperasi Kelurahan.
“Bisa dikatakan, Kopkel adalah hadiah Presiden untuk Tasikmalaya yang tidak punya desa tapi kelurahan,” jelasnya.
“Yah kami optimistis Kota Tasikmalaya layak menjadi pusat perayaan Hari Koperasi Nasional. Apalagi keberadaan Tugu Koperasi menjadi penanda fisik yang tidak dimiliki daerah lain. Tugu itu bukan sekadar monumen, melainkan simbol bahwa gerakan koperasi pernah bermula dan tumbuh subur di kota ini.
“Karena selama bertahun tahun Tugu Koperasi terlihat terbengkalai, nyaris tanpa sentuhan perawatan. Kondisinya memprihatinkan dan jauh dari kemegahan yang seharusnya melekat pada monumen sejarah nasional. Kunjungan Sesmenkop menjadi angin segar yang membuka harapan baru bagi kebangkitan kawasan tersebut.
Jika kajian menyetujui, peringatan Hari Koperasi Nasional di Tasikmalaya akan digabung dengan pencanangan kawasan Tugu Koperasi sebagai cagar budaya. Langkah ini diyakini dapat menguatkan posisi Tasikmalaya sebagai kota koperasi sekaligus destinasi wisata sejarah, “pungkasnya(*)
















