TERASJABAR.ID – Iran membantah laporan yang menyebut telah menyepakati nota kesepahaman (MoU) dengan Amerika Serikat untuk memperpanjang gencatan senjata yang masih rapuh dalam konflik yang melibatkan AS dan Israel.
Kesepakatan tersebut sebelumnya dikabarkan akan menjadi dasar bagi pembahasan lebih lanjut terkait program nuklir Iran.
Menurut laporan Axios, para negosiator AS telah memberikan penjelasan kepada Donald Trump mengenai rincian rancangan kesepakatan.
Namun, Trump disebut meminta waktu tambahan sebelum memutuskan apakah akan menyetujui proposal tersebut.
Di sisi lain, Saeed Aghaloo, anggota tim media delegasi negosiasi Iran, menegaskan bahwa Teheran belum menyetujui dokumen apa pun dan belum memberi tahu mediator dari Pakistan mengenai penyelesaian kesepakatan.
Ia juga menekankan bahwa Iran tidak memberikan komitmen baru terkait program nuklirnya selama proses perundingan berlangsung.
Sumber yang dekat dengan tim negosiasi Iran menyebutkan bahwa draf kesepakatan masih dalam tahap pembahasan dan belum memperoleh persetujuan resmi.
Karena itu, laporan yang menyatakan kesepakatan akhir telah tercapai dianggap tidak tepat.
Dalam rancangan yang beredar, MoU berdurasi 60 hari itu mencakup jaminan kebebasan pelayaran komersial melalui Selat Hormuz tanpa pungutan tambahan.
Iran juga disebut akan diminta membersihkan ranjau laut dari jalur tersebut dalam waktu 30 hari.
Selain itu, proposal tersebut dikabarkan mencakup pencabutan bertahap blokade laut terhadap Iran, sejumlah pelonggaran sanksi, serta izin yang lebih luas bagi Teheran untuk menjual minyak di pasar internasional.
Kesepakatan itu juga disebut memuat komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.
Isu terkait persediaan uranium yang diperkaya akan menjadi salah satu topik utama dalam pembahasan lanjutan antara kedua pihak.-***















