TERASJABAR.ID – Di tengah meningkatnya tekanan sosial untuk selalu tampil kuat dan bahagia, fenomena toxic positivity menjadi perhatian dalam kajian kesehatan mental.
Kondisi ini menggambarkan sikap yang memaksakan seseorang untuk selalu berpikir positif dan menolak emosi negatif, bahkan ketika sedang mengalami kesedihan, kelelahan, atau kekecewaan.
Secara psikologis, toxic positivity dipahami sebagai kecenderungan mengabaikan atau menekan perasaan yang tidak menyenangkan dengan dalih harus selalu optimis.
Padahal, menurut berbagai pendekatan seperti Emotional Regulation Theory dan Acceptance and Commitment Therapy (ACT), emosi negatif merupakan bagian alami dari kehidupan yang perlu diakui dan diproses, bukan dihindari.
Perbedaan utama antara optimisme sehat dan toxic positivity terletak pada penerimaan emosi.
Optimisme tetap memberi ruang bagi perasaan negatif, sementara toxic positivity cenderung menolaknya dengan slogan seperti “harus selalu bahagia” atau “tetap positif saja”.
Kondisi ini justru dapat berdampak buruk pada kesehatan mental, seperti meningkatnya stres, kecemasan, risiko depresi, hingga burnout akibat tekanan emosional yang terus dipendam.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa penekanan emosi dalam jangka panjang dapat memperburuk kondisi psikologis dan menghambat proses pemulihan.
Karena itu, para ahli menekankan pentingnya kesadaran emosional, mindfulness, serta self-compassion dalam menghadapi tekanan hidup.
Pendekatan yang dianjurkan adalah menerima semua emosi sebagai bagian dari pengalaman manusia, memberikan dukungan yang empatik kepada orang lain, serta tidak memaksakan sikap positif secara berlebihan.
Dukungan sosial dan ruang aman untuk bercerita juga dinilai penting dalam menjaga keseimbangan mental.
Dengan memahami konsep ini, masyarakat diharapkan lebih bijak dalam merespons emosi diri sendiri maupun orang lain, serta tidak lagi menganggap kesedihan sebagai kelemahan, melainkan bagian dari proses kesehatan mental yang sehat.-***
















