TERASJABAR.ID – Inspektur Jenderal Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI, Dr. Masyhudi, S.H., M.H., menyoroti masih adanya desa di Priangan Timur yang tercekik keterbatasan infrastruktur digital dan ketahanan pangan.
Dalam kunjungannya ke Alun-alun Dadaha, Kota Tasikmalaya, Senin (25/5/2026), Irjen Kemendes menyebut sejumlah desa di Kabupaten Tasikmalaya, Garut, dan Ciamis masih terperangkap dalam zona gelap atau blank spot internet.
“Jaringan wifi masih jelek, bahkan blank spot yang ada di desa-desa di Kabupaten Tasikmalaya, Garut, dan Ciamis. Ada daerah dan desa yang sudah berkembang maju dan mandiri, tapi masih ada juga yang jauh dan beberapa desa yang wifinya kurang bagus, bahkan ada yang blank spot,” tegas Dr. Masyhudi.
Pernyataan itu menjadi tamparan keras bagi upaya pemerataan digital. Di era ketika akses internet menjadi kebutuhan dasar untuk pendidikan, ekonomi, hingga layanan publik, masih banyak desa yang tertinggal karena sinyal tak sampai.
“Desa yang sudah maju dan mandiri kontras dengan desa lain yang masih terisolasi secara digital. Kesenjangan ini harus segera dipangkas jika desa ingin benar-benar naik kelas,” ujarnya.
Masalah tidak berhenti di konektivitas. Dr. Masyhudi juga menyorot ketimpangan ketahanan pangan antar desa. Ia menyebut masih ada wilayah yang produksinya belum mampu mencukupi kebutuhan warganya sendiri. Sementara di sisi lain, ada desa yang sudah swasembada, bahkan surplus.
“Bahkan ada juga beberapa desa yang pangannya masih kurang, sehingga pangan yang bagus dan sudah swasembada bahkan lebih bisa kita salurkan sehingga semua daerah cukup dan bisa memberi sumbangsih swasembada pangan yang dapat membantu daerah lain,” jelasnya.
Model distribusi pangan antar desa ini dinilai sebagai solusi cepat untuk menutup jurang ketahanan pangan. Desa lumbung pangan bisa menjadi penyangga bagi desa yang masih kekurangan, tanpa harus menunggu pasokan dari luar daerah. Skema gotong royong semacam ini, menurut Irjen, harus diperkuat melalui koordinasi pemerintah kabupaten dan kecamatan, “ucap dia.
Lebih jauh, Dr. Masyhudi menegaskan bahwa pembangunan desa tidak boleh berjalan parsial. Kemajuan satu desa tidak boleh meninggalkan desa lain. Sinergi, kolaborasi, dan pemerataan menjadi kunci agar setiap pencapaian pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat luas,”ujarnya
“Setiap pencapaian dan kesuksesan semoga lebih bermanfaat bagi orang yang banyak. Semakin besar pencapaian, semakin besar pula manfaatnya,” tutupnya.
Pernyataan Irjen Kemendes ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah pusat tidak akan tinggal diam melihat ketimpangan desa. Blank spot internet dan rapuhnya ketahanan pangan di Priangan Timur harus segera dibenahi.
“Jika tidak, cita-cita desa mandiri dan berdaya saing hanya akan jadi slogan tanpa bukti, ” ungkapnya.
Pemerintah daerah, penyedia layanan internet, dan masyarakat desa kini ditantang untuk bergerak cepat. Jaringan harus merata, lumbung pangan harus saling mengisi, dan pembangunan harus menyentuh semua, bukan hanya yang sudah maju, “papar dia(*)
















