TERASJABAR.ID – Di tengah dinamika krisis pangan global, Indonesia mencatat capaian penting dalam penguatan ketahanan pangan nasional.
Dalam kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia telah mencapai swasembada pada 9 komoditas pangan pokok strategis, ditandai dengan surplus produksi dalam negeri terhadap kebutuhan konsumsi nasional.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman yang juga menjabat Menteri Pertanian menyampaikan, capaian tersebut menjadi momentum strategis yang patut disyukuri, sekaligus dijaga dengan pengelolaan distribusi dan harga yang baik.
“Produksi sudah selesai. Itu kita syukuri, di saat krisis dunia dan krisis pangan, Indonesia surplus. Ini kita syukuri. Kita sekarang sudah swasembada, 9 komoditas. Yang belum (swasembada) ada tiga. Nah ini pun tiga yang belum swasembada, stoknya banyak,” ujar Kepala Bapanas Amran saat menghadiri Gerakan Pangan Murah (GPM) di Jakarta.
Dilansir siaran pers Bapanas, 9 komoditas tersebut meliputi beras, gula konsumsi, cabai besar, cabai rawit, jagung, minyak goreng, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah.
Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional hingga akhir April 2026, total ketersediaan beras tercatat mencapai 27,55 juta ton dengan kebutuhan sebesar 10,30 juta ton, sehingga terdapat surplus 17,24 juta ton.
Gula konsumsi juga diperkirakan surplus 595 ribu ton hingga April 2026.
Surplus komoditas lainnya tercatat pada cabai besar sebesar 74 ribu ton, cabai rawit 105 ribu ton, jagung 4,85 juta ton, serta minyak goreng 3,5 juta ton.
Untuk protein hewani, daging ayam diproyeksikan surplus 728 ribu ton dan telur ayam 349 ribu ton. Sementara bawang merah mencatat surplus 57 ribu ton.
















