TERAS JABAR – Pengusaha asal Jabar yang juga Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia untuk wilayah Jawa Barat, Jakarta dan Banten, Agung Suryamal, angkat bicara dengan menyikapi badai ekonomi akhir akhir ini.
Menurut Agung, para pengusaha saat ini sedang menghadapi beberapa tantangan serius terutama mereka yang bergerak di sektor manufaktur maupun perdagangan.
Pelemahan rupiah, tingginya biaya produksi, suku bunga yang masih relatif mahal, perlambatan daya beli masyarakat, hingga ketidakpastian ekonomi global membuat tekanan berlapis terhadap pelaku usaha di berbagai sektor. Banyak pengusaha mengalihkan perhatian yakni tidak lagi berfokus pada ekspansi agresif, melainkan menjaga keberlangsungan bisnis di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.
Lebih lanjut Ketua Forum Komunikasi Pengusaha Jabar (Forkompenja) ini mengatakan, beberapa tantangan yang dihadapi pengusaha saat ini antara lain biaya produksi yang terus meningkat. Pelemahan rupiah yang membuat harga bahan baku impor, mesin produksi, komponen elektronik, hingga bahan kimia industri menjadi lebih mahal. Kondisi ini paling terasa di sektor manufaktur, farmasi, otomotif, tekstil, dan elektronik yang masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor.
Masalahnya, tidak semua perusahaan dapat langsung menaikkan harga jual karena daya beli konsumen juga sedang tertekan. Akibatnya margin keuntungan semakin menipis.
Kemudian, daya beli masyarakat yang kian melemah. Pelaku usaha ritel, makanan-minuman, properti, hingga otomotif menghadapi tantangan dari sisi permintaan. Konsumen menjadi lebih selektif dalam berbelanja dan cenderung menunda pembelian barang sekunder maupun tersier. Fenomena ini terlihat dari berbagai laporan yang menunjukkan perlambatan penjualan di sejumlah sektor meskipun pertumbuhan ekonomi nasional masih berada di atas 5 persen.
Selain dua tantangan di atas, kata Agung, tekanan arus kas dan pembiayaan di mana banyak perusahaan menghadapi biaya pinjaman yang masih tinggi, sementara kebutuhan modal kerja meningkat akibat kenaikan harga bahan baku.
Dan, tantangan lain yang pengaruhnya juga besar yaitu persaingan global yang semakin ketat. Selain menghadapi tantangan domestik, perusahaan Indonesia juga harus bersaing dengan negara-negara lain yang menawarkan biaya produksi lebih rendah, infrastruktur lebih efisien, atau insentif investasi yang lebih menarik.
STRATEGI HADAPI TEKANAN
Akibat dari berbagai tantangan tersebut, sejumlah perusahaan mulai menahan perekrutan karyawan baru dan menunda ekspansi untuk menjaga likuiditas. Tekanan biaya yang berkepanjangan dapat meningkatkan risiko PHK, terutama pada sektor padat karya seperti tekstil, alas kaki, makanan-minuman, dan elektronik.
“Berdasarkan masukan dari teman-teman pengusaha dan pengalaman saya sendiri sebagai pengusaha selama sekitar 35 tahun, ada beberapa strategi yang tepat untuk menghadapi situasi saat ini,” ujar Agung.
Pertama, diversifikasi sumber bahan baku. Perusahaan perlu mengurangi ketergantungan pada satu negara pemasok atau satu jenis bahan baku impor. Selain itu, penggunaan bahan baku lokal yang memenuhi standar kualitas juga dapat menjadi solusi jangka panjang untuk meningkatkan ketahanan bisnis.
Kedua, fokus pada efisiensi operasional. Sebaiknya perusahaan mulai melakukan digitalisasi proses bisnis, otomatisasi produksi, pengurangan pemborosan energi, optimalisasi persediaan, serta perbaikan sistem distribusi.
Ketiga, memperkuat manajemen kas. Likuiditas menjadi faktor penting dalam periode penuh ketidakpastian. Pengusaha perlu mempercepat penagihan piutang, mengontrol pengeluaran non-prioritas, menjaga cadangan kas, dan mengelola utang secara lebih konservatif.
Keempat, memanfaatkan peluang ekspor. Bagi perusahaan yang memiliki produk kompetitif, pelemahan Rupiah justru dapat menjadi peluang. Produk Indonesia menjadi relatif lebih murah bagi pembeli luar negeri sehingga daya saing ekspor meningkat.
Kelima, menjaga fleksibilitas strategi bisnis di tengah kondisi ekonomi yang berubah sangat cepat. Fleksibilitas dalam pengelolaan harga, kapasitas produksi, investasi, dan strategi pemasaran menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan bertahan di tengah ketidakpastian.
Agung menambahkan bahwa tekanan yang dihadapi dunia usaha saat ini memang berat. Namun sejarah menunjukkan bahwa banyak perusahaan justru lahir lebih kuat setelah berhasil melewati periode krisis. Tantangan terbesar bukan hanya pelemahan Rupiah atau perlambatan ekonomi, melainkan kemampuan perusahaan untuk beradaptasi lebih cepat dibanding perubahan yang terjadi di pasar.
“Di tengah ketidakpastian global, pengusaha yang mampu menjaga efisiensi, mengelola risiko, memperkuat arus kas, serta menangkap peluang baru akan memiliki posisi yang lebih kuat ketika siklus ekonomi kembali membaik,” tegas Agung.****

















