“Pada akhirnya, semua upaya ini ditujukan untuk ketahanan dan kemandirian industri nasional serta mempertahankan utilisasi produksi, sehingga bisa mencapai tujuan yang menjadi prioritas utama pemerintah yaitu melindungi pekerja industri dari pengurangan tenaga kerja atau PHK,” tuturnya.
Selain kebijakan perlindungan industri yang dijalankan sebelum gejolak gepolitik di timur tengah, Kemenperin saat ini sedang menyiapkan usulan baru insentif dan kebijakan perlindungan bagi industri dalam menghadapi gejolak geopolitik dunia, guna mempertahankan utilisasi dan melindungi pekerja industri dari ancaman PHK.
“Bapak Menteri Perindustrian sedang menyiapkan usulan insentif baru dan kebijakan perlindungan industri dalam negeri dalam menghadapi dampak gejolak geopolitik. Rancangan insentif dan kebijakan baru ini memperkuat kebijakan perlindungan industri sebelumnya. Dengan hal ini, diharapkan dapat memperkuat rantai pasok industri menghadapi tekanan global dan melindungi pekerjanya dengan baik,” imbuh Febri.
Berdasarkan data S&P Global, tidak hanya Indonesia, tekanan terhadap sektor manufaktur juga dialami oleh negara-negara di Asia Tenggara, meskipun dengan intensitas yang berbeda.
Vietnam masih mencatatkan PMI di kisaran 50,5, sementara Malaysia berada di level 51,6, menunjukkan negara tersebut tengah mengalami kontraksi ringan.
Dengan capaian PMI sebesar 49,1, Indonesia berada pada kelompok kontraksi moderat dan sejalan dengan tren pelemahan di sebagian negara ASEAN.
Namun demikian, Indonesia masih relatif lebih baik ditopang oleh permintaan domestik, dibandingkan negara yang mengalami kontraksi lebih dalam seperti Filipina yang menurun hingga 48,3.
“Posisi Indonesia yang berada pada kontraksi moderat menunjukkan bahwa sektor manufaktur nasional relatif resilien di tengah tekanan global. Namun, ini juga menjadi sinyal penting untuk memperkuat struktur industri dalam negeri agar lebih tahan terhadap gejolak eksternal,” jelas Jubir Kemenperin.
Survei Indeks Kepercayaan Industri (IKI) menunjukkan, pelaku industri masih menunjukkan optimisme terhadap prospek produksi dalam 6 bulan ke depan yang tercatat sebesar 70,1%, meskipun mengalami penurunan tipis sebanyak 1,7% dibandingkan bulan sebelumnya.***
Sumber: Siaran Pers Kemenperin















