Indonesia Memasuki Gelombang Kedua Covid-19, Seberapa Bahaya?

Indonesia Memasuki Gelombang Kedua Covid-19, Seberapa Bahaya?
(merdeka.com/Iqbal S Nugroho)
Editor: Mfakhrezi Hot News —Kamis, 1 Juli 2021 09:03 WIB


TERAS JABAR-Indonesia tengah menghadapi gelombang kedua lonjakan kasus Covid-19. Kondisi ini ditandai dengan meningkatnya kasus virus corona di Tanah Air dalam sepekan terakhir. Bahkan penambahan kasus harian pada 27 Juni 2021 kemarin mencatat rekor tertinggi selama pandemi, yakni 21.345 orang. 

Satuan Tugas (Satgas) penanganan Covid-19 mencatat, lonjakan kasus kali ini jauh lebih tinggi dari puncak gelombang pertama yang terjadi pada Januari 2021 lalu. Pada puncak pertama, jumlah kasus mingguan mencapai 89.902 orang, sedangkan minggu ini angkanya sudah mencapai 125.396 orang.

"Hal ini menandakan second wave atau gelombang kedua kenaikan kasus Covid di Indonesia," kata Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito dalam pernyataan tertulis yang diterima Liputan6.com, Selasa (29/6/2021).

Wiku mengungkapkan bahwa pada puncak kasus pertama, kenaikan dari titik kasus terendah sebesar 283 persen dan memuncak dalam waktu 13 minggu. Sedangkan pada gelombang kedua ini, kenaikan dari titik kasus terendah mencapai 381 persen atau hampir 5 kali lipatnya dan mencapai puncak hanya dalam waktu 6 minggu.

Padahal, Indonesia sempat mengalami penurunan kasus sejak puncak pertama yaitu selama 15 minggu dengan total penurunan hingga 244 persen. Menurut Wiku, kasus meningkat sangat cepat pascalibur Lebaran 2021.

"Awalnya kenaikan terlihat normal dan tidak terlalu signifikan. Namun, memasuki minggu ke-4 pascaperiode libur, kenaikan meningkat tajam dan berlangsung selama tiga minggu hingga mencapai puncak kedua di minggu terakhir," papar Wiku.

Setidaknya ada tiga faktor yang memicu lonjakan kasus Covid-19 pada gelombang kedua ini, yakni masih banyaknya masyarakat yang nekat mudik Lebaran 2021, ditambah munculnya beberapa varian baru virus corona, dan diperparah dengan tingginya mobilitas warga.

"Kondisi-kondisi ini menyebabkan dampak periode libur (Lebaran 2021) terlihat hingga minggu ke-6 dan kemungkinan masih akan terlihat hingga minggu ke-8," katanya.

Keberhasilan pengendalian dari lonjakan kasus ini, kata Wiku, kembali pada kesiapan masing-masing daerah dalam menyusun dan menjalankan strategi penanganan terbaik di wilayahnya. Dengan demikian, lonjakan kasus yang terjadi dapat segera ditekan dan dikendalikan sehingga mengurangi beban pada fasilitas, sistem, dan tenaga kesehatan.

Satgas Covid-19 mencatat, tiga provinsi yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah, disusul Jawa Timur sama-sama berkontribusi besar pada kenaikan kasus baik pada puncak pertama maupun gelombang kedua. Adapun Sulawesi Selatan yang turut berkontribusi pada puncak pertama, kini relatif stabil dan posisinya digantikan oleh Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Masyarakat terutama di ketiga provinsi ini harus berkontribusi dalam menekan lonjakan kasus Covid-19. Upaya penanganan adalah upaya kolektif. Untuk itu, inisiatif masyarakat dalam menekan dan mengendalikan kasus menjadi sangat penting," ungkap Wiku.

Wiku meminta masyarakat terus disiplin menerapkan protokol kesehatan (Prokes) pencegahan Covid-19. Dia meminta masyarakat tidak abai dan merasa kebal sesudah divaksin. Sebab, kekebalan komunal atau herd immunity baru dapat tercapai apabila vaksinasi telah mencakup 70 persen populasi.

“Jika terpapar, mengalami gejala Covid atau memiliki kerabat yang terkena Covid, jujurlah dengan segera melapor kepada ketua RT setempat agar segera ditindaklanjuti oleh Puskesmas. Jangan khawatir jika petugas tracing datang untuk melacak kontak erat, dan jangan takut di-swab karena hal ini perlu dilakukan agar kasus positif ditangani dengan cepat, sehingga tidak bertambah parah,” tutur dia.

Selanjutnya, masyarakat juga dapat ikut menyebarluaskan edukasi terkait Covid-19 kepada orang-orang di sekitarnya. Hal ini penting karena terdapat berbagai isu yang masih perlu diedukasi dengan baik, seperti penggunaan masker yang benar, pentingnya menjaga jarak, hingga vaksinasi.

“Akseslah informasi Covid-19 yang valid dan terpercaya dari kanal resmi Satgas Covid-19, kementerian/lembaga terkait serta kanal edukasi lainnya, dan pastikan informasi yang disampaikan terkonfirmasi kebenarannya dan bukan hoaks,” kata Wiku memungkasi.

LIHATJUGA:






View this post on Instagram

A post shared by Teras Jabar (@terasjabar.id)

<

Puncak Gelombang Kedua Belum Terlihat

Epidemiolog dari Universitas Airlangga Surabaya, Windhu Purnomo mengakui bahwa saat ini kasus Covid-19 di Tanah Air telah memasuki gelombang kedua. Dia menuturkan, gelombang pertama terjadi saat kasus pertama terdeteksi di Indonesia pada awal Maret 2020 hingga puncaknya pada akhir Januari 2021.

Selanjutnya, kasus Covid-19 mulai melandai dan perkembangannya cenderung stagnan. "Tiba-tiba naik setelah lebaran, ini kita masuk dalam gelombang kedua, dan ini lebih tinggi dari pada gelombang pertama. Kita belum tahu puncaknya loh gelombang kedua ini, yang jelas lebih tinggi," kata Windhu saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (30/6/2021).

Menurut dia, banyak faktor yang melatarbelakangi menggilanya kasus Covid-19 di Indonesia. Pertama, Windhu menyoroti inkonsistensi kebijakan pemerintah saat menghadapi libur Lebaran 2021 dengan upaya penanggulangan pandemi Covid-19.

Larangan mudik yang dikeluarkan pemerintah tidak dibarengi dengan ketegasan sanksi dan kebijakan yang lain. Sebab di saat yang sama, pemerintah justru mengizinkan masyarakat berlibur ke tempat wisata. Belum lagi beda sikap antara Satgas Covid-19 dengan pemerintah soal diperbolehkannya mudik lokal.

Kedua, lonjakan Covid-19 juga dipicu banyaknya pegawai migran Indonesia (PMI) yang mudik ke kampung halamannya. Kepulangan warga dari luar negeri ini juga disinyalisasi membawa virus corona varian baru yang lebih menular. Hal itu juga dibuktikan dengan banyaknya temuan varian Delta di Bangkalan, Jawa Timur.

Sementara kewajiban karantina yang ditetapkan pemerintah terhadap warga yang pulang dari perjalanan luar negeri dinilai tidak memenuhi standar. Pemerintah hanya mewajibkan orang dari luar negeri melakukan karantina selama 5 hari.

"Jadi itu kesalahan kebijakan juga tidak sesuai dengan masa infeksius maupun masa inkubasi virus. Karena masa inkubasi virus bisa 14 hari, bahkan ada beberapa orang lebih. Sehingga banyak pekerja migran yang membawa virusnya tidak dikarantina dengan baik ya menularkan varian baru yang dia bawa dari luar, seperti sekarang banyak varian Delta yang mengenai banyak orang jadi transmisi lokal," kata Windhu.

Faktor lainnya yakni upaya testing dan tracing yang masih buruk sejak awal pandemi Covid-19. Menurut dia, upaya testing dan tracing sempat bagus pada pertengahan Februari 2021 hingga melebihi standar minimum yang ditetapkan WHO, namun beberapa saat kemudian kembali merosot.

"Keempat, kepatuhan dari warganya sudah makin melorot, yang sebelumnya saja enggak bagus-bagus amat, sekarang makin melorot. Sekarang mungkin yang pakai masker di bawah 40 persen, kemudian jaga jarak (juga menurun)," tutur Windhu.

Lebih lanjut, Windhu menuturkan bahwa varian Delta memiliki karakteristik yang harus betul-betul diwaspadai dan diantisipasi penyebarannya. Sebab, varian yang pertama kali ditemukan di India itu memiliki tingkat replikasi yang sangat cepat dibanding varian lainnya.

"Jadi varian Delta ini dikatakan 40 persen lebih menular dari varian Alpha yang dari UK (Inggris). Padahal Aplha sendiri 70 persen lebih menular daripada virus yang original (yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China. Jadi Delta ini kalau dibandingkan dengan original 98 persen lebih menular, jadi hampir 2 kali lipat," ujar dia.

Seseorang yang terpapar virus corona varian Delta, kata Windhu, bisa menulari 6 hingga 7 orang. Orang-orang yang tertular tadi juga akan menulari 6 hingga 7 orang lainnya, begitu dan seterusnya seperti jaringan multilevel marketing (MLM).  

"Bayangkan kalau makin meluas, kapan ini (berakhir), padahal sekarang ini respons pemerintah enggak kuat. Mestinya itu dilakukan pembatasan mobilitas warga, semua harus tinggal di rumah. Bukan seperti sekarang, transportasi masih jalan dan sebagainya," ucap Windhu.

Berdasarkan penelitian ahli virus, varian Delta juga mampu melakukan antibody escape. Artinya, varian dengan nama lain B1617.2 itu dapat menurunkan efikasi antibody yang didapat dari vaksinasi Covid-19.

"Harusnya varian original ketika dia mengenai orang yang sudah punya antibody enggak akan sampai membuat sakit, karena dia tertahan oleh antibody itu. Tetapi Delta mampu melarikan diri, jadi dia ketika antibody melawan virus dia mampu menghindari dan masih bisa menyakiti orang yang dia tulari," beber dia.

Hal itu dibuktikan dengan masih banyaknya orang yang terpapar Covid-19 dengan gejala berat meski sudah divaksinasi. Windhu mencatat, hingga saat ini terdapat enam tenaga kesehatan (nakes) di Bangkalan yang meninggal dunia akibat Covid-19, padahal mereka telah divaksinasi.

"Itu berbahayanya varian baru Delta ini. Jadi kalau respons kita biasa-biasa saja, masyarakat juga gitu masih abai terhadap prokes, ini akan meluas. Kita enggak tahu nanti gelombang kedua ini tingginya seberapa kalau kita ternyata respons kita biasa-biasa saja," katanya.

TONTON JUGA:

Belajar dari India

Pakar epidemiologi ini tidak bisa memprediksi kapan puncak gelombang kedua Covid-19 di Indonesia ini terjadi, sebab semua itu akan dipengaruhi oleh kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Jika kebijakan masih seperti saat ini, bukan tidak mungkin puncaknya baru akan terjadi pada September atau Oktober 2021. 

BACAJUGA:

RAMALAN ZODIAK BESOK 1 Juli 2021 : Libra Belajar Dari Pengalaman, Scorpio Perlu Perhatikan Kesehatan

"Saya enggak bisa bayangkan itu kaya apa tingginya kalau respons kita biasa-biasa aja," ucap Windhu.

Dia pun meminta Indonesia berkaca pada penanganan lonjakan kasus Covid-19 di India yang sempat disorot dunia karena kewalahan menghadapi varian Delta. India langsung memutuskan untuk menerapkan karantina wilayah atau lockdown. Tak tanggung-tanggung, India me-lockdown sebagian besar negara bagian.

"Jadi lockdown mereka bukan sekedar lockdown RT. Mereka lockdown negara bagian, kalau di sini provinsi. Jadi sebagai besar negara bagian di India di-lockdown, sisanya lockdown parsial karena tidak terlalu berat kondisi Covidnya. Apa yang terjadi, hanya dalam waktu sebulan, hari ini kasus sudah sepersepuluh dari (lonjakan) tanggal 8-10 Mei. Bayangkan, berhasil. Itu karena kebijakan yang tepat," kata Windhu.

Berbeda dengan pemerintah Indonesia yang hanya melakukan penebalan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala mikro. Padahal kebijakan PPKM Mikro sejauh ini dinilai gagal menekan laju penularan Covid-19.

"Kalau kita masih seperti ini kita enggak tahu puncaknya, yang bisa saya perkirakan ya September baru sampai puncak. Kalau kita tepat, mungkin dalam tiga minggu sudah mulai turun atau satu bulan paling lama mencapai puncak dan turun. Tapi kalau seperti ini enggak tahu, tergantung dari apa yang dilakukan pemerintah, masyarakat itu hanya manut," ujar Windhu menandaskan.

(Sumber :Liputan.com)

Virus Corona indonesia india


Loading...